📅 Terbit: Senin, 5 Oktober 2026 · ⏱️ 20 menit baca · 🏷️ Market Outlook Mingguan
IHSG turun empat pekan beruntun dan kini berdiri di garis yang paling sering dibicarakan pasar, yaitu 6.000. Pekan lalu indeks sempat menembusnya secara intraday, tapi setiap penutupan masih bertahan di atasnya, dan Jumat ditutup hijau di 6.036. Arah pekan ini ditarik dua kekuatan yang berlawanan. Dari Amerika, inflasi PCE yang lebih jinak dan data tenaga kerja yang lemah membuat peluang kenaikan bunga The Fed pada Oktober menyusut tajam. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi jangka panjang AS justru naik ke level tertinggi sejak 2002, dolar menguat, dan minyak kembali di atas 100 dolar seiring penumpukan kekuatan militer AS di sekitar Iran. Ujian utamanya ada di cadangan devisa Rabu, risalah FOMC yang terbit Kamis dini hari, dan dibukanya kembali bursa China setelah libur panjang.
Seluruh analisis merupakan riset pribadi team Alfey Saham, berbasis data publik terverifikasi per 4 Oktober 2026. Harga pasar, rata-rata bergerak, dan indikator dihitung sendiri dari data harian dengan metode standar, lalu dicocokkan dengan sumber lain. Data minyak, emas, dan tembaga memakai kontrak yang sama agar tidak terdistorsi pergantian kontrak. Sumber: BEI, BPS, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, Federal Reserve, BLS, BEA, Departemen Keuangan AS, Eurostat, RBA, Gedung Putih, Trading Economics, Yahoo Finance, Investing.com, CNBC Indonesia, ANTARA, Kontan, Katadata, Stockbit, Kiwoom Sekuritas, Phintraco Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas, MNC Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas. Ini bukan rekomendasi beli atau jual. DYOR.
Indeks sedang menguji 6.000 dalam kondisi jenuh jual, sementara peluang kenaikan bunga Fed bulan ini menyusut dan yield jangka panjang AS justru terus naik.
Pekan lalu skenario bear dari edisi sebelumnya yang terwujud. Support 6.220 sampai 6.240 di rata-rata 20 pekan jebol sejak pembukaan Senin, lalu indeks turun 3,28 persen ke 6.036,89 dan menguji retracement Fibonacci 50 persen di 6.015, persis di batas bawah sasaran skenario itu. Arah harganya sesuai skenario bear, walau pemicunya berbeda. PCE Amerika justru lebih jinak dari perkiraan, inflasi Indonesia tidak menyentuh 3,5 persen, dan kurs acuan rupiah tidak menembus 18.000. Tekanan datang dari arus keluar asing, kenaikan yield jangka panjang AS, dan guncangan di pekan pertama era harga Rp1.
Ini penurunan mingguan keempat beruntun. Dihitung dari penutupan tertinggi 6.686 pada 8 September, IHSG sudah terkoreksi 9,7 persen, dan secara intraday sempat lebih dari 10 persen. September ditutup minus 6,96 persen, September terburuk sejak 2020, walau secara kuartal indeks masih naik 7,58 persen. Asing menjual bersih sekitar Rp5,03 triliun dalam sepekan, sehingga akumulasi jual bersih sepanjang tahun membengkak ke Rp82,55 triliun.
Yang menarik, data domestik pekan lalu justru bagus. Indeks manufaktur September melonjak ke 52,4 dari 49,8, tertinggi sejak Februari, surplus perdagangan Agustus mencapai 3,55 miliar dolar atau jauh di atas perkiraan sekitar 0,6 miliar dolar, dan inflasi inti turun ke 2,84 persen. Semua data itu terbit Kamis 1 Oktober, hari ketika IHSG justru turun 1,02 persen. Tekanannya datang dari tempat lain: perombakan kabinet pada hari yang sama, yield 10 tahun AS yang semalam sebelumnya ditutup di level tertinggi sejak 2002, arus keluar asing yang makin deras, dan tekanan teknis di era harga Rp1 yang membuat sektor teknologi anjlok 12,45 persen sepekan.
Di latar global, narasi The Fed bergeser. Inflasi PCE inti Agustus keluar 3,0 persen, di bawah perkiraan 3,3 persen, lalu data tenaga kerja September hanya menambah 29 ribu pekerjaan dengan revisi turun 60 ribu untuk dua bulan sebelumnya. Peluang kenaikan bunga pada FOMC 28 Oktober pun jatuh dari sekitar 70 persen menjadi sekitar 20 sampai 25 persen. Kenaikan itu sebatas tertunda, karena pasar masih memperhitungkan lebih dari 80 persen peluang minimal satu kenaikan sampai Desember. Masalahnya, imbal hasil obligasi jangka panjang AS tidak ikut turun. Yield 10 tahun ditutup 5,29 persen pada 30 September, tertinggi sejak Mei 2002, dan indeks dolar sempat ke puncak 12 bulan, sehingga kelegaan bagi pasar berkembang masih terbatas.
Pekan ini punya struktur yang jelas. Senin, bursa merespons data tenaga kerja AS yang lemah sekaligus kabar akhir pekan dari Timur Tengah, termasuk pernyataan Iran pada Minggu bahwa Selat Hormuz tetap ditutup, sehingga harga minyak berisiko naik saat pasar dibuka. Rabu, Bank Indonesia merilis cadangan devisa September yang akan menunjukkan berapa besar cadangan yang terpakai untuk menjaga rupiah, dan bank sentral India diperkirakan menaikkan bunga. Kamis dini hari terbit risalah FOMC, dan di hari yang sama bursa China dibuka kembali setelah libur Golden Week. Kalender domestik relatif ringan, sementara ujian besar berikutnya ada di inflasi AS pada 14 Oktober dan RDG Bank Indonesia pada 20-21 Oktober.
Data Final Pekan 28 September - 2 Oktober 2026
Sumber: BEI (rekap pekanan), Bank Indonesia (JISDOR), Yahoo Finance, rilis 2-3 Oktober 2026
| Metrik | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Penutupan Jumat 2/10 | 6.036,89 | -3,28% sepekan (-205,00 poin), turun empat pekan beruntun |
| Jarak dari puncak | -9,7% | Dari penutupan tertinggi 6.686 (8 Sep), intraday sempat lebih dari -10% |
| September final | -6,96% | Terburuk sejak September 2020, kuartal III +7,58% |
| Kapitalisasi pasar | Rp10.627 T | -2,55% sepekan |
| Rata-rata nilai transaksi harian | Rp12,63 T | +5,4%, volume harian +72,5% karena transaksi jumbo GOTO |
| Jual bersih asing sepekan | ~Rp5,03 T | Seluruh pasar, Jumat saja Rp1,27 T |
| Jual bersih asing YTD | Rp82,55 T | Dari Rp77,52 T sepekan sebelumnya |
| Rupiah (JISDOR 2/10) | Rp17.898 | Sempat 17.998 (29 Sep), tak tembus rekor 18.039 |
Rekonstruksi Harian 28 September - 2 Oktober 2026
| Hari | Penutupan | Ringkasan |
|---|---|---|
| Sen 28 | 6.147,86 (-1,51%) | Hari pertama era harga Rp1. Dibuka dengan gap turun di bawah support 6.220, 554 saham turun, ditutup hanya 7 poin di atas level terendah. |
| Sel 29 | 6.121,70 (-0,43%) | Hari flush. Sempat jatuh ke 6.013 (sekitar -2,2%) lalu pulih, membentuk candle hammer dengan lower wick 106 poin di dekat Fibonacci 50%. Asing jual bersih Rp777 M. |
| Rab 30 | 6.071,14 (-0,83%) | Sempat naik ke 6.187, dekat Fibonacci 38,2%, lalu ditolak dan ditutup di titik terendah harian. Hammer sehari sebelumnya gagal dikonfirmasi. |
| Kam 1 | 6.009,50 (-1,02%) | Pertama kali di bawah 6.000 sejak pertengahan Juli (low 5.973), lalu ditutup tipis di atasnya. Hari perombakan kabinet, datang setelah yield 10 tahun AS ditutup 5,29% semalam. Data domestik yang bagus tidak cukup menahan. |
| Jum 2 | 6.036,89 (+0,46%) | Hijau pertama dalam lima sesi. Sempat ke 5.980 lalu merebut kembali 6.015. Antrean jual GOTO terserap dengan volume jumbo. |
Catatan: penutupan Kamis di 6.009,50 adalah yang terendah sejak 10 Juli. Data PCE AS terbit Rabu malam WIB dan baru tercermin Kamis, sedangkan data tenaga kerja AS terbit Jumat malam WIB dan baru tercermin di sesi Senin 5 Oktober.
Layer Teknikal IHSG
Basis data harian penutupan per 2 Oktober 2026. Rata-rata bergerak, RSI (metode standar Wilder), Stochastic, MACD, dan ATR dihitung sendiri dari deret harian.
Struktur harga: tangga menurun berlanjut sampai ke 6.000. Penurunan yang dimulai dari puncak intraday 6.712 pada 10 September berlanjut ke pekan keempat. Senin dibuka dengan gap turun yang menembus support rata-rata 20 pekan, sehingga skenario bear edisi lalu menjadi kenyataan. Selasa sempat terbentuk hammer dengan lower wick panjang dari 6.013, tapi Rabu gagal mengonfirmasi karena ditolak di 6.187 dan ditutup di titik terendah. Kamis indeks menembus 6.000 secara intraday ke 5.973 lalu ditutup tipis di atasnya, dan Jumat kembali sempat ke 5.980 sebelum ditutup di 6.037 dengan candle hijau kecil. Dua hari beruntun breakdown di bawah 6.000 ditolak dengan lower wick, tanda pembeli mulai bertahan di level itu. Indeks kini berada di bawah semua rata-rata bergerak, dan pada Jumat rata-rata 20 hari (6.371) memotong ke bawah rata-rata 50 hari (6.379), sinyal yang menegaskan tren turun jangka pendek.
Indikator: tren masih turun, kondisi jenuh jual makin dalam. RSI 14 dengan metode standar Wilder berada di 30, tepat di ambang jenuh jual. Stochastic sudah di 9, jenuh jual dalam. MACD di -105 dan semakin jauh di bawah garis sinyalnya, jadi momentum penurunan belum mereda. Rata-rata ayunan harian (ATR) sekitar 104 poin atau 1,7 persen, sehingga gerak 100 poin dalam sehari masih tergolong wajar. Kombinasi ini menunjukkan tekanan masih ada, sementara ruang pantulan teknikal makin terbuka begitu tekanan jual mereda.
Garis pertahanan ada di 6.000 sampai 6.015. Area ini pertemuan Fibonacci 50 persen dari low Juni di 5.318 ke puncak September di 6.712, angka psikologis 6.000, dan dua penutupan terakhir. Jika penutupan jebol di bawah 6.000, uji berikutnya ada di 5.930 sampai 5.973, yaitu low Kamis dan pivot mingguan S1, lalu Fibonacci 61,8 persen di 5.851 yang juga menjadi sasaran bawah sejumlah analis. Di sisi atas, rintangan pertama ada di 6.180 sampai 6.187, yaitu Fibonacci 38,2 persen, pivot R1, dan titik penolakan Rabu. Di atasnya ada 6.206 sampai 6.257, rata-rata 20 pekan dan rata-rata 100 hari. IHSG juga masih jauh di bawah MA200 di 7.167.
| Level | Angka | Peran |
|---|---|---|
| Resistance 3 | 6.297 - 6.335 | MA60, pivot R2, batas atas analis |
| Resistance 2 | 6.206 - 6.257 | MA20 mingguan, MA100 |
| Resistance 1 | 6.180 - 6.187 | Fibonacci 38,2%, pivot R1, penolakan Rabu |
| Harga kini | 6.037 | Penutupan Jumat 2 Oktober |
| Support 1 | 6.000 - 6.015 | Fibonacci 50%, angka psikologis |
| Support 2 | 5.930 - 5.973 | Low Kamis, pivot S1 |
| Support 3 | 5.850 - 5.872 | Fibonacci 61,8%, sasaran bawah analis |
Selama penutupan bertahan di atas 6.000, peluang pantulan teknikal terbuka ke 6.180. Penembusan tegas di atas 6.187 membuka jalan ke 6.206 sampai 6.257. Jika penutupan jebol di bawah 6.000, uji berikutnya ada di 5.930 lalu 5.850.
Sejumlah analis memetakan level yang serupa. Phintraco Sekuritas melihat rentang 6.000 sampai 6.200, dengan risiko ke 5.800 sampai 5.900 jika 6.000 jebol. Mirae Asset menempatkan support di 6.016 dan 5.851 serta resistance di 6.180 dan 6.335, sementara MNC Sekuritas memetakan support 5.949 dan 5.872 serta resistance 6.187 dan 6.297. BRI Danareksa Sekuritas melihat support 5.854 dengan resistance 6.185 sampai 6.240. Untuk sebulan penuh, Mirae memperkirakan IHSG bergerak di 5.900 sampai 6.500 sepanjang Oktober.
Musiman: September terburuk sejak 2020, lalu bagaimana Oktober?
September 2026 ditutup turun 6,96 persen, September terburuk sejak 2020 yang turun 7,03 persen, dan jauh di bawah rata-rata September sepuluh tahun terakhir yang hanya minus 0,88 persen. Sejak 1998, IHSG sembilan kali turun 3 persen atau lebih di bulan September. Pada lima kesempatan, Oktober sesudahnya memantul 5 sampai 9 persen, yaitu 1998, 1999, 2011, 2015, dan 2020. Pada empat kesempatan lain, penurunan justru berlanjut, yaitu 2000, 2001, 2002, dan 2008, periode yang diwarnai krisis atau guncangan besar. Secara umum Oktober cenderung hijau, dengan rata-rata naik 1,15 persen dan delapan dari sepuluh tahun terakhir positif. Pola ini layak jadi pertimbangan, dengan catatan arus asing yang masih keluar deras bisa mengalahkan kecenderungan musiman.
Sepekan Era Harga Rp1 dan Short Selling
Sumber: BEI, ANTARA, Katadata, CNBC Indonesia, Stockbit (28 September - 2 Oktober 2026)
GOTO jadi ujian pertama, dampak ke indeks terbatas
Pekan pertama aturan harga minimum Rp1 berjalan dengan gejolak yang sudah diperkirakan. BEI mencatat sekitar 69 saham diperdagangkan di bawah Rp50 pada hari pertama. Sorotan terbesar ada di GOTO, yang terkena batas turun harian empat hari beruntun dari Rp50 ke 43, 37, 32, lalu 28, atau turun 44 persen. Antrean jual yang sempat menyentuh sekitar 1 miliar lot pada hari pertama akhirnya terserap Jumat, dengan volume sekitar 97 miliar lembar atau kira-kira 80 persen dari volume seluruh bursa hari itu, dan harga memantul ke Rp30. Asing tercatat menjual bersih GOTO hampir Rp1 triliun di pasar reguler sepanjang pekan, yang berarti investor domestik menjadi pembeli bersihnya. Manajemen GOTO menyebut pergerakan itu dipicu faktor teknikal. Bobot saham gocap terhadap IHSG hanya sekitar 1,9 persen, dan kontribusinya pada Senin diperkirakan sekitar 17 poin dari penurunan 94 poin, sehingga BEI menilai dampaknya ke indeks tidak signifikan. Meski begitu, sektor teknologi tertekan 12,45 persen sepekan.
Short selling resmi kembali berjalan sejak Kamis 1 Oktober, untuk pertama kalinya sejak dilarang pada Maret 2020. Bentuknya intraday short selling, artinya posisi jual wajib ditutup di hari yang sama, dan posisi yang belum ditutup akan dibeli paksa di akhir hari. Tahap awal hanya mencakup lima saham, yaitu ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF, lewat dua anggota bursa dengan syarat jaminan minimal Rp50 juta, dan selama masa transisi sampai 31 Desember hanya terbuka untuk investor individu domestik. Pada hari pertama, 50 investor membuka rekening dan baru satu dari lima saham itu yang mencatat transaksi, jadi pengaruhnya ke pasar masih sangat kecil. Di pekan yang sama, 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus, sementara 42 saham tetap di sana. Paket pembenahan ini hadir sekitar lima pekan sebelum hasil review MSCI diumumkan pada 11 November. Penjelasan dasar soal saham gocap bisa dibaca di artikel Era Baru Saham Gocap: BEI Hapus Batas Rp50.
Event Utama: Cadangan Devisa Rabu, Risalah FOMC Kamis, China Buka Lagi
Sumber: Federal Reserve, Bank Indonesia, RBI, Departemen Keuangan AS, Trading Economics (Oktober 2026). Waktu AS 14.00 ET setara 01.00 WIB hari berikutnya.
| Event | Jadwal | Konsensus / Catatan |
|---|---|---|
| Reaksi NFP AS dan kabar Iran akhir pekan | Senin 5 Okt | Peluang Fed naik Oktober turun, minyak berisiko naik |
| Keputusan bunga RBI (India) | Rabu 7 Okt, 11.30 WIB | Diperkirakan naik 25 bps ke 5,50% |
| Cadangan devisa September | Rabu 7 Okt | Agustus US$146,5 M, cermin besaran stabilisasi rupiah |
| Lelang obligasi AS 10 dan 30 tahun | Kamis dan Jumat, 00.00 WIB | Uji permintaan di tengah yield tertinggi sejak 2002 |
| Risalah FOMC 15-16 September | Kamis 8 Okt, 01.00 WIB | Penentu nada Fed, reaksi BEI Kamis |
| Bursa China buka lagi, keyakinan konsumen RI | Kamis 8 Okt | Hang Seng turun 2,6% Jumat saat China libur |
| Sentimen konsumen UMich awal Oktober | Jumat 9 Okt, 21.00 WIB | September final 48,1 |
The Fed: kenaikan Oktober menyusut, Desember masih hidup
Dua data pekan lalu menggeser ekspektasi. Inflasi PCE inti Agustus 3,0 persen, di bawah perkiraan 3,3 persen, dan data tenaga kerja September hanya menambah 29 ribu pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,2 persen. Peluang kenaikan bunga pada 28 Oktober pun jatuh ke sekitar 20 sampai 25 persen, dari sekitar 70 persen sepekan sebelumnya, sementara peluang minimal satu kenaikan sampai Desember masih di atas 80 persen. Para pejabat Fed sendiri terbelah: Gubernur Michael Barr condong ke pengetatan, Presiden Fed New York John Williams menyebut tidak ada urgensi, dan Wakil Ketua Philip Jefferson masih melihat risiko inflasi ke atas. Risalah rapat 15-16 September, rapat ketika The Fed menaikkan bunga ke 3,75 sampai 4,00 persen, terbit Kamis 01.00 WIB dan akan menunjukkan seberapa kuat dorongan di dalam komite untuk menaikkan lagi. Catatannya, yield jangka panjang AS tetap tinggi meski ekspektasi kenaikan menyusut, jadi kelegaan bagi rupiah dan pasar berkembang belum penuh. Ujian yang lebih besar ada di inflasi AS September pada 14 Oktober.
Rabu: cadangan devisa, ukuran ruang gerak Bank Indonesia
Pekan lalu kurs acuan JISDOR sempat menyentuh 17.998 pada 29 September, tapi tidak menembus rekor terlemah 18.039 pada Juni, dan pekan ditutup di 17.898. Cadangan devisa akhir Agustus berada di 146,5 miliar dolar. Angka September yang terbit Rabu akan menunjukkan seberapa besar cadangan yang terpakai untuk stabilisasi rupiah selama sebulan penuh tekanan. Penurunan yang wajar sudah diperhitungkan pasar, tapi penurunan yang tajam bisa menambah kekhawatiran. Sebagai penyeimbang, surplus perdagangan Agustus yang melonjak ke 3,55 miliar dolar menambah pasokan valas. RDG Bank Indonesia berikutnya digelar 20-21 Oktober.
Global: Fed Mereda, Yield Panjang Justru Naik
Sumber: BLS, BEA, Departemen Keuangan AS, Investing.com, Trading Economics, RBA, Eurostat, Gedung Putih, Yahoo Finance (28 September - 4 Oktober 2026)
| Faktor | Angka | Catatan |
|---|---|---|
| NFP September AS | +29 ribu | Konsensus ~90 ribu, pengangguran 4,2% |
| PCE inti Agustus | 3,0% yoy | Di bawah perkiraan 3,3% |
| Peluang Fed naik 28 Oktober | ~20-25% | Dari ~70%, peluang hingga Desember masih di atas 80% |
| US Treasury 10 tahun | 5,28% | Sempat ditutup 5,29%, tertinggi sejak 2002 |
| Indeks Dolar (DXY) | ~101,9 | +0,95% sepekan, sempat puncak 12 bulan |
| Brent (kontrak Desember) | ~$102 | +4,9% sepekan, penumpukan militer AS |
| Emas | ~$4.162 | -3,7% sepekan, ~25% di bawah rekor |
| Nikel (LME) | ~$15.435/ton | Harga tunai terendah sepanjang 2026 |
| Batu bara Newcastle | ~$149/ton | Bertahan tinggi |
Data AS pekan lalu memberi gambaran ekonomi yang mulai melambat dengan tekanan harga yang belum hilang. Di sisi yang melunak, inflasi PCE inti Agustus 3,0 persen, di bawah perkiraan, keyakinan konsumen Conference Board hanya 81,9, dan data tenaga kerja September hanya menambah 29 ribu pekerjaan dengan revisi turun 60 ribu untuk Juli dan Agustus. Di sisi yang masih keras, indeks manufaktur ISM berada di 54,5 dengan komponen harga yang tinggi di 77,9, dan pertumbuhan ekonomi kuartal II pada estimasi ketiga tercatat 2,2 persen. Hasil akhirnya, pasar memundurkan perkiraan kenaikan bunga Fed berikutnya dari Oktober ke Desember.
Yang membuat kelegaan itu tidak sampai ke pasar berkembang adalah pasar obligasi. Sepekan, yield 2 tahun hanya naik 2 basis poin, sementara yield 10 tahun naik 11 basis poin dan yield 30 tahun 14 basis poin, sehingga kenaikan paling tajam justru terjadi di tenor panjang. Yield 10 tahun ditutup 5,29 persen pada 30 September, tertinggi sejak Mei 2002, lalu sempat menyentuh 5,34 persen secara intraday pada 1 Oktober, sementara yield 30 tahun di sekitar 5,6 persen berada di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Tekanan serupa terasa di Eropa. Yield obligasi Inggris 30 tahun sempat menyentuh 6 persen, dan inflasi kilat zona euro September naik ke 3,8 persen, tertinggi sejak September 2023. Bank sentral Australia juga menaikkan bunga ke 4,60 persen, tertinggi sejak 2011. Indeks dolar sempat ke puncak 12 bulan. Di sisi lain, saham teknologi AS tetap kuat: Nasdaq-100 mencetak rekor penutupan seiring laporan keuangan Micron yang melampaui perkiraan, sementara S&P 500 turun tipis 0,3 persen dan Dow 1,3 persen sepekan.
Minyak kembali menjadi risiko. Brent kontrak Desember naik 4,9 persen sepekan ke sekitar 102 dolar, sementara sebagian kuotasi menampilkan penurunan karena kontrak November jatuh tempo 30 September. Pemicunya adalah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan, termasuk kapal induk ketiga yang berangkat 1 Oktober, dan rentetan serangan terhadap kapal tanker. Pada Minggu 4 Oktober, Ketua Parlemen Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum tujuh syarat Iran dipenuhi. Kelompok Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Arab Saudi, klaim yang sudah dibantah. Bagi Indonesia sebagai importir minyak, ini beban untuk rupiah dan inflasi, apalagi APBN 2027 masih memakai asumsi harga minyak 75 dolar. Di logam, emas turun 3,7 persen sepekan ke sekitar 4.162 dolar, penutupan terendah sejak 4 Agustus dan sekitar 25 persen di bawah rekornya. Tembaga turun 3,2 persen, sekitar 5 persen di bawah puncaknya, sementara nikel di London jatuh ke harga tunai terendah tahun ini. Batu bara justru bertahan di sekitar 149 dolar per ton.
Dari kawasan, kabarnya campuran. Indeks manajer pembelian China September kembali ke zona ekspansi, dengan versi resmi di 50,1 untuk pertama kalinya sejak Juni dan versi swasta di 52,1. Lembar fakta kesepakatan dagang AS dan China dari Gedung Putih mencakup keringanan tarif atas barang senilai 30 miliar dolar di masing-masing arah, serta komitmen China mengimpor sedikitnya 10 juta ton batu bara AS untuk periode 2027-2028. Bursa China daratan libur sejak 1 Oktober dan baru dibuka kembali Kamis 8 Oktober, sementara Hang Seng turun 2,2 persen sepekan, termasuk minus 2,6 persen pada Jumat, penurunan harian terbesar dalam tiga bulan terakhir. Di sisi lain, Nikkei naik 2,9 persen dan indeks Taiwan mencetak rekor penutupan. Bank sentral India diperkirakan menaikkan bunga pada Rabu, menambah daftar bank sentral yang mengetat.
Domestik: Data Kuat, Tapi Kalah oleh Arus Keluar
Sumber: BPS, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, DPR, BEI, CNBC Indonesia, ANTARA, Katadata, Stockbit (29 September - 4 Oktober 2026)
Rentetan data 1 Oktober menunjukkan fondasi ekonomi yang membaik. Inflasi September 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus tapi masih di dalam kisaran proyeksi dan 22 basis poin di bawah batas atas target Bank Indonesia. Inflasi inti justru turun ke 2,84 persen dari 2,92 persen, sementara tekanan terbesar datang dari harga pangan bergejolak yang naik 5,03 persen secara tahunan. Indeks manufaktur S&P Global melonjak ke 52,4 dari 49,8, tertinggi sejak Februari, dengan pesanan ekspor tumbuh paling cepat sejak Mei 2022. Neraca perdagangan Agustus mencatat surplus 3,55 miliar dolar, jauh di atas perkiraan sekitar 0,6 miliar dolar, dengan ekspor tumbuh 6,72 persen dan impor 19,09 persen secara tahunan, sehingga surplus Januari sampai Agustus mencapai 7,25 miliar dolar. Data seperti ini biasanya menopang rupiah dan sentimen, tapi pekan lalu pengaruhnya tenggelam oleh tekanan global dan arus keluar asing.
Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG September. Di luar suku bunga, BI juga menambah langkah, antara lain memperluas jenis instrumen yang bisa dipakai dalam transaksi repo dan memberikan insentif likuiditas makroprudensial sekitar Rp118 triliun kepada 111 bank untuk mendorong kredit perumahan. Rupiah sempat melemah melewati 18.000 di pasar luar negeri pada Senin, tapi kurs acuan JISDOR tertahan di 17.998 pada Selasa, dan pekan ditutup menguat tipis ke 17.898. Di pasar spot, rupiah menguat 0,47 persen pada Jumat ke 17.882. RDG berikutnya digelar 20-21 Oktober.
Dari sisi politik dan fiskal, Presiden Prabowo merombak kabinet pada Kamis 1 Oktober, antara lain menggeser Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi, dan IHSG turun 1,02 persen hari itu. Dua hari sebelumnya, DPR mengesahkan APBN 2027 dengan belanja Rp4.106,26 triliun dan defisit Rp671,16 triliun atau 2,40 persen PDB. Asumsinya memakai kurs Rp17.500 dan harga minyak Indonesia 75 dolar per barel, keduanya kini tertinggal dari kenyataan dengan rupiah di kisaran 17.900 dan Brent di atas 100 dolar, sehingga beban subsidi energi layak dipantau.
Dari sisi arus, asing menjual bersih sekitar Rp5,03 triliun sepekan, dengan Rp1,27 triliun di antaranya terjadi pada Jumat. Di pasar reguler, tekanan jual terbesar mengarah ke saham teknologi, bank besar, dan telekomunikasi, sementara pembelian asing kecil dan selektif. Kesebelas sektor ditutup merah, dengan teknologi paling dalam minus 12,45 persen karena terseret GOTO, disusul barang baku minus 5,29 persen. Energi menjadi sektor paling tahan dengan penurunan hanya 1,00 persen, ditopang harga batu bara dan minyak yang tinggi.
Lanjutannya khusus member Premium
Analisis penuh dengan level entry dan exit hanya untuk member Premium ke atas.