AlfeySaham
Market Outlook27 September 2026

IHSG Pekan 28 September - 2 Oktober 2026: Uji Support di Level Akhir Juli, Era Harga Rp1 Dimulai di Tengah Yield AS 5%

📅 Terbit: Senin, 28 September 2026  ·  ⏱️ 20 menit baca  ·  🏷️ Market Outlook Mingguan

⚠️ Senin: harga minimum saham turun ke Rp1PCE Rabu, inflasi RI Kamis, NFP JumatYield AS 10 tahun 5,2%, rupiah 17.917

IHSG masuk pekan terakhir kuartal III dalam posisi terjepit. Setelah turun tiga pekan beruntun, indeks ditutup di 6.241 pada Jumat, nyaris persis di level penutupan akhir Juli, sehingga seluruh kenaikan Agustus sampai awal September terhapus. Tekanannya datang dari luar: bank sentral dunia mengetat serentak setelah The Fed menaikkan bunga ke 3,75 sampai 4,00 persen, imbal hasil obligasi AS 10 tahun menembus 5 persen ke level tertinggi sejak 2007, dan dolar menguat, sementara Wall Street justru mendekati rekor berkat reli saham AI. Pekan ini dibuka dengan perubahan besar di bursa sendiri, yaitu harga saham minimum turun dari Rp50 ke Rp1 dan short selling dibuka kembali, lalu diuji rentetan data, mulai dari PCE Amerika, inflasi Indonesia, sampai data tenaga kerja AS.

Seluruh analisis bersifat edukatif, berbasis data publik terverifikasi per 27 September 2026. Harga pasar, rata-rata bergerak, dan indikator dihitung sendiri dari data harian dengan metode standar, lalu dicocokkan dengan sumber lain. Sumber: BEI, BPS, Bank Indonesia, OJK, Kementerian Keuangan, Federal Reserve, BLS, BEA, CME FedWatch, Bank of Japan, RBA, MSCI, FTSE Russell, Trading Economics, Yahoo Finance, CNBC, CNBC Indonesia, Kompas, Kontan, Liputan6, IDX Channel, CNN Indonesia, ANTARA, Katadata, Fortune Indonesia, MNC Sekuritas, Bumiputera Sekuritas, Phintraco Sekuritas, Binaartha Sekuritas. Ini bukan rekomendasi beli atau jual. DYOR.


Indeks sedang menguji support menengahnya, dan pekan ini menumpuk tiga ujian: aturan harga Rp1 pada Senin, inflasi pada Kamis, dan data tenaga kerja AS pada Jumat.

Dua pekan terakhir berat. Pada pekan FOMC, IHSG turun 1,53 persen ke 6.441, tepat di tepi bawah rentang base case edisi lalu. Pekan berikutnya penurunan melebar menjadi 3,09 persen ke 6.241,89, penutupan terendah sejak 3 Agustus dan penurunan mingguan ketiga beruntun. Dihitung dari puncak intraday 6.712 pada 10 September, indeks sudah terkoreksi sekitar 7 persen, dan dalam dua pekan kapitalisasi pasar menyusut sekitar Rp541 triliun. September sejauh ini minus 4,35 persen, walau secara kuartal indeks masih naik 10,6 persen berkat reli Juli dan Agustus. Asing menjual bersih sekitar Rp3 triliun per pekan selama tiga pekan beruntun, sehingga akumulasi sepanjang tahun membengkak ke Rp77,5 triliun, sementara nilai transaksi harian rata-rata merosot 21 persen ke Rp11,98 triliun, tanda pembeli menepi.

Pemicu utamanya adalah pengetatan moneter global. The Fed menaikkan bunga 25 basis poin ke 3,75 sampai 4,00 persen pada 16 September dengan suara bulat 12-0, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Proyeksi titik bunga para pejabat menunjukkan mayoritas komite memperkirakan satu kenaikan lagi tahun ini, dan pasar kini memperhitungkan sekitar dua pertiga peluang kenaikan pada FOMC 28 Oktober. Bank of Japan ikut menaikkan ke 1,25 persen, tertinggi sejak 1995, dan ECB sudah menaikkan pada 10 September. Semuanya didorong inflasi energi dari perang Iran. Akibatnya imbal hasil obligasi AS 10 tahun sempat menyentuh 5,23 persen, tertinggi sejak 2007, tenor 30 tahun sekitar 5,50 persen, tertinggi sejak 2004, dan indeks dolar menguat ke sekitar 101.

Yang membuat situasi ini khas adalah divergensinya. Wall Street tidak ikut tertekan: Nasdaq mencetak rekor penutupan 27.244 pada 22 September berkat reli saham AI, dan S&P 500 hanya sekitar 0,7 persen di bawah rekornya. Selera risiko global belum patah, tapi modal sedang memilih aset dolar berimbal hasil tinggi dan saham teknologi AS. Pasar berkembang yang tertinggal, termasuk Indonesia, menanggung tekanan paling besar lewat rupiah yang melemah ke 17.917 per dolar menurut kurs acuan JISDOR, hanya sekitar 0,7 persen dari rekor terlemahnya pada Juni, dan jual bersih asing yang berlanjut.

Pekan ini punya struktur yang jelas. Senin, harga saham minimum Rp1 mulai berlaku dan sekitar 59 saham gocap bisa bergerak bebas untuk pertama kalinya, bersamaan dengan pasar yang menyerap kabar akhir pekan bahwa Trump menolak usulan damai Iran, sehingga premi risiko minyak berpotensi naik saat pasar dibuka. Rabu malam terbit inflasi PCE Amerika, dengan reaksi penuh di bursa kita pada Kamis. Kamis siang giliran inflasi September Indonesia, yang diproyeksi mendekati batas atas target Bank Indonesia. Jumat malam terbit data tenaga kerja AS, yang reaksinya baru mengenai IHSG Senin depan. Di tengahnya, bursa China libur panjang mulai Kamis, jadi likuiditas kawasan menipis di paruh akhir pekan.


Data Final Pekan 21-25 September 2026

Sumber: BEI (rekap pekanan via Kompas, Liputan6, IDX Channel), Bank Indonesia (JISDOR), Yahoo Finance, rilis akhir pekan 26 September 2026

MetrikNilaiCatatan
Penutupan Jumat 25/96.241,89-3,09% sepekan (-199,27 poin), terendah sejak 3 Agustus
Jarak dari puncak-7,0%Dari puncak intraday 6.712 (10 Sep)
Kinerja September berjalan-4,35%Kuartal III masih +10,6%
Kapitalisasi pasarRp10.905 TSusut ~Rp361 T sepekan
Rata-rata nilai transaksi harianRp11,98 T-21,3%, pembeli menepi
Jual bersih asing sepekanRp3,15 TPekan FOMC Rp2,94 T, tiga pekan beruntun ~Rp3 T
Jual bersih asing YTDRp77,52 TDari ~Rp70 T di akhir Agustus
Rupiah (JISDOR 25/9)Rp17.917~0,7% dari rekor terlemah 18.039 (4 Jun)

Rekonstruksi Harian 21-25 September 2026

HariPenutupanRingkasan
Sen 216.384,73 (-0,88%)Pasar menunggu RDG BI dengan yield AS di sekitar 5 persen. Infrastruktur paling lemah, indeks ditutup di dekat level terendah harian.
Sel 226.277,04 (-1,69%)Koreksi terdalam pekan. Dibuka hijau lalu berbalik, 10 dari 11 sektor merah dengan energi terdalam. Analis mengaitkannya dengan realokasi dana kawasan setelah Vietnam resmi naik kelas di FTSE per 21 September. Terjadi sehari setelah Nasdaq mencetak rekor.
Rab 236.374,91 (+1,56%)Memantul setelah BI menahan bunga di 5,75%. Semua sektor hijau, candle membentuk pola harami bullish.
Kam 246.298,61 (-1,20%)Pantulan gagal, 487 saham turun. Asing jual bersih Rp1,49 T, terpusat di bank besar. Malam sebelumnya yield 10 tahun AS mencatat kenaikan harian terbesar sejak April 2025.
Jum 256.241,89 (-0,90%)Sempat ke 6.328 pagi, lalu tertekan jelang penutupan dengan 558 saham turun. Ditutup di dekat titik terendah, kembali ke level akhir Juli.

Catatan pekan FOMC (14-18 September): pekan dibuka dengan pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara pada Senin 14 September, yang sempat membuat IHSG anjlok 2,6 persen intraday ke 6.371 sebelum pulih hampir penuh ke 6.534,69. Indeks melanjutkan enam sesi turun beruntun sejak 9 September hingga Rabu, memantul 0,40 persen pada Kamis setelah kenaikan bunga Fed yang sudah diperkirakan, lalu melemah 0,33 persen pada Jumat saat eksekusi rebalancing FTSE, hari ketika asing menjual bersih Rp1,79 triliun. Sepekan -1,53 persen dengan jual bersih asing Rp2,94 triliun.


Layer Teknikal IHSG

Basis data harian penutupan per 25 September 2026. Rata-rata bergerak, RSI (metode standar Wilder), Stochastic, MACD, dan ATR dihitung sendiri dari deret harian.

Tangga menurun sejak gagal di 6.712Di bawah MA20, MA50, MA100Bertahan di MA20 mingguan (6.241)RSI 37, lemahStochastic 13, jenuh jual jangka pendekMACD negatif

Struktur harga: tangga menurun sejak breakout gagal. Sejak candle merah panjang pada 10 September yang berbalik dari 6.712, sebuah breakout yang gagal di atas 6.704, IHSG membentuk rangkaian puncak dan lembah yang makin rendah. Dua upaya pantulan tidak berlanjut, yaitu hammer pada 14 September dengan ekor bawah panjang dari 6.371 dan pola harami bullish pada 23 September yang naik 1,56 persen, masing-masing terhapus pada sesi berikutnya. Sebagian besar sesi ditutup di dekat titik terendah harian, tanda penjual menguasai penutupan. Breakout di atas MA100 yang terjadi Agustus pun batal, karena indeks kini kembali di bawah MA100 (6.305), MA50 (6.395), dan MA20 (6.503).

Indikator: momentum lemah, tapi jangka pendek sudah jenuh jual. RSI 14 dengan metode standar Wilder berada di 37, lemah tapi belum masuk wilayah jenuh jual. Stochastic sudah turun ke 13 dengan garis %K nyaris nol, kondisi jenuh jual jangka pendek yang kerap mendahului pantulan teknikal. MACD negatif dan berada di bawah garis sinyalnya, jadi momentum masih mengarah turun. Rata-rata ayunan harian (ATR) sekitar 100 poin atau 1,6 persen, sehingga gerak 100 poin dalam sehari masih tergolong wajar di kondisi sekarang.

Titik temu support ada di 6.220 sampai 6.240. Indeks ditutup persis di MA20 mingguan (6.241), yang berimpit dengan penutupan akhir Juli (6.236) dan low Jumat (6.232). Inilah support menengah paling penting pekan ini. Jika jebol, sasaran berikutnya adalah retracement Fibonacci 38,2 persen di 6.180, dihitung dari low Juni di 5.318 ke puncak September di 6.712, lalu level 50 persen di 6.015 yang berdekatan dengan angka psikologis 6.000. Di sisi atas, klaster MA100, MA60, dan pivot mingguan di 6.297 sampai 6.320 menjadi rintangan pertama, dan analis menilai penutupan di atas 6.320 dibutuhkan untuk memperbaiki tren. IHSG juga masih jauh di bawah MA200 di 7.227.

LevelAngkaPeran
Resistance 36.500 - 6.535MA20 harian, batas atas proyeksi analis
Resistance 26.373 - 6.410High 23 September, MA50 (6.395)
Resistance 16.297 - 6.320Klaster MA100, MA60, pivot mingguan
Harga kini6.242Penutupan Jumat 25 September
Support 16.220 - 6.240MA20 mingguan, level akhir Juli, low Jumat
Support 26.150 - 6.180Fibonacci 38,2%, sasaran analis
Support 36.015 - 6.030Fibonacci 50%, dekat angka 6.000

Selama IHSG bertahan di atas 6.220, peluang pantulan dari support menengah masih terbuka. Penutupan di atas 6.320 menjadi tanda awal perbaikan tren menuju 6.373 sampai 6.410. Jika 6.220 jebol, uji berikutnya ada di 6.180 lalu 6.015.

Musiman: Oktober cenderung hijau, window dressing tidak terbukti

Berdasarkan penutupan bulanan IHSG 2016 sampai 2025, Oktober rata-rata naik 1,15 persen dan hijau pada 8 dari 10 tahun, sementara kuartal IV rata-rata naik 4,31 persen. Setelah September turun lebih dari 3 persen, Oktober 2011, 2015, dan 2020 memantul 5 sampai 7 persen, walau pada 2008 penurunan justru berlanjut, jadi sampelnya kecil dan tidak bisa dijadikan patokan. Yang sering disalahpahami adalah window dressing akhir kuartal III. Dalam sepuluh tahun terakhir, lima hari bursa terakhir September rata-rata justru turun 0,62 persen dan hanya positif dua kali, jauh berbeda dengan akhir Desember yang positif sembilan dari sepuluh kali. Yang justru terverifikasi di akhir kuartal ini adalah permintaan valas importir, yang menurut BI ikut menekan rupiah. Jadi jangan mengandalkan window dressing untuk menopang indeks pekan ini.


Mulai Senin: Harga Minimum Rp1 dan Short Selling Kembali

Sumber: BEI (Kep-00136/BEI/09-2026, SK Direksi 21 September 2026), OJK, IDX Channel, Katadata, ANTARA, Fortune Indonesia, Kontan

Lantai Rp50 dibuka, saham gocap mencari harga wajarnya

Mulai Senin 28 September, BEI menurunkan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1 di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Sekitar 59 saham gocap yang selama ini tertahan di Rp50, menurut data IDX Channel per 25 September, kini bisa bergerak bebas. Nama paling besar di antaranya GOTO, yang antrean jualnya di Rp50 sempat tercatat sekitar 400 juta lot. Karena lantai buatan itu dibuka, banyak saham gocap justru berpotensi turun lebih dulu untuk mencari harga wajarnya, dan volatilitas hari-hari pertama bisa tinggi. Sebagai pengaman, selama masa transisi sampai 31 Desember 2026 batas turun harian (ARB) saham di atas Rp10 tetap 15 persen, lebih ketat dari batas naiknya, sementara saham Rp1 sampai Rp10 bergerak dengan batas nominal Rp1 per hari. Mulai 2027 batas naik dan turun dibuat simetris.

Di pekan yang sama BEI membuka kembali short selling, yang dilarang sejak Maret 2020. Daftar efek awalnya terbit Senin dan hanya berisi 3 sampai 5 saham berbasis LQ45, dengan perdagangan ditargetkan mulai 1 Oktober. BEI juga merombak Papan Pemantauan Khusus dengan menghapus empat kriteria, sehingga 92 saham keluar dari papan itu dan kembali diperdagangkan secara normal, sementara OJK menerbitkan aturan demutualisasi bursa pada 21 September. Dampak langsung paket ini ke indeks relatif terbatas, karena bobot saham gocap kecil dan cakupan short selling masih sempit. Namun maknanya penting, karena pembenahan penemuan harga dan likuiditas ini hadir sekitar enam pekan sebelum hasil review MSCI November diumumkan pada 11 November, review yang menentukan status Indonesia di kelompok pasar berkembang. Penjelasan lengkap soal saham gocap bisa dibaca di artikel Era Baru Saham Gocap: BEI Hapus Batas Rp50.


Event Utama: PCE Rabu, Inflasi RI Kamis, NFP Jumat

Sumber: BEA, BLS, BPS, RBA, DPR, BEI (September-Oktober 2026). Waktu AS 08.30 ET setara 19.30 WIB.

EventJadwalKonsensus / Catatan
Harga minimum Rp1 berlaku, daftar short selling terbitSenin 28 Sep~59 saham gocap bergerak bebas
Keputusan bunga RBA, pengesahan APBN 2027Selasa 29 SepRBA diperkirakan naik ke 4,60%; APBN defisit 2,40% PDB
PCE Agustus + PDB Q2 revisi ketigaRabu 30 Sep, 19.30 WIBPCE inti ~3,4% yoy, reaksi BEI Kamis
RUPSLB TLKMRabu 30 SepPemisahan bisnis fiber tahap 2 (~Rp49,9 T)
Inflasi, neraca dagang, PMI IndonesiaKamis 1 OktProyeksi inflasi ~3,2-3,4%, batas atas target 3,5%
Short selling ditargetkan mulaiKamis 1 OktAwalnya 3-5 saham LQ45
Non-Farm Payrolls September ASJumat 2 Okt, 19.30 WIBKonsensus +90-100 ribu, reaksi BEI Senin 5 Okt

PCE dan NFP: penentu peluang kenaikan bunga Oktober

Setelah menaikkan bunga pada September, The Fed masih membuka pintu kenaikan lagi, dan pasar memperhitungkan sekitar dua pertiga peluangnya pada 28 Oktober. Dua data pekan ini akan menggeser peluang itu. Inflasi PCE Agustus terbit Rabu malam, dengan konsensus inti sekitar 3,4 persen secara tahunan, sehingga reaksi penuhnya baru terasa di bursa kita Kamis. Data tenaga kerja September terbit Jumat malam, dengan konsensus tambahan 90 sampai 100 ribu pekerjaan setelah Agustus yang kuat di 162 ribu, dan reaksinya baru mengenai IHSG Senin depan. Data yang lebih kuat dari perkiraan mengeraskan peluang kenaikan Oktober, mendorong yield dan dolar naik, dan menambah tekanan ke pasar berkembang. Data yang lebih lunak bisa memberi kelegaan.

Inflasi Indonesia Kamis: mendekati batas atas target

BPS merilis inflasi September pada Kamis pukul 11.00 WIB. Proyeksi berada di kisaran 3,2 sampai 3,4 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus, dan makin dekat dengan batas atas target Bank Indonesia di 3,5 persen. Pendorongnya adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi per 1 September dan harga pangan, sementara inflasi inti Agustus sudah di 2,92 persen, tertinggi sejak Maret 2023. Sebagai penyeimbang, survei konsumen BI menunjukkan ekspektasi harga untuk September menurun. Kalau inflasi menyentuh atau melewati 3,5 persen di saat rupiah dekat rekor terlemah dan Fed masih mengetat, ruang BI untuk terus menahan bunga menyempit, dan spekulasi kenaikan BI-Rate bisa muncul kembali. Di hari yang sama terbit indeks manufaktur, yang pada Agustus berada di zona kontraksi 49,8 walau pesanan baru kembali sedikit di atas 50, serta neraca perdagangan Agustus.


Global: Pengetatan Serentak, Yield Tertinggi Sejak 2007

Sumber: Federal Reserve, CME FedWatch, Bank of Japan, Trading Economics, Yahoo Finance, CNBC (14-27 September 2026)

FaktorAngkaCatatan
Bunga acuan Fed3,75-4,00%Naik 25 bps 16 Sep, suara 12-0
Peluang naik 28 Oktober~64-69%CME FedWatch per 25 Sep
US Treasury 10 tahun5,18%Sempat 5,23%, tertinggi sejak 2007
Indeks Dolar (DXY)~101Dekat puncak 52 minggu
Nasdaq27.069Rekor penutupan 27.244 pada 22 Sep
Brent / WTI~$104 / ~$92Brent kontrak November, premi perang Iran
Emas~$4.321-2,3% sepekan, ~23% di bawah puncak $5.586
Batu bara Newcastle~$144/tonNaik ~35% dibanding setahun lalu
Nikel (LME)~$16.230/tonHarga tunai terendah sepanjang 2026

Keputusan Fed pada 16 September menjadi titik balik. Kenaikan 25 basis poin disetujui bulat 12-0, dan Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan inflasi terlalu tinggi dan sudah terlalu lama, sambil menolak memberi panduan eksplisit soal langkah berikutnya. Proyeksi titik bunga menaruh median 2026 di 4,1 persen, artinya satu kenaikan lagi tahun ini, dan 16 dari 18 peserta memperkirakan minimal satu kenaikan tambahan. Sejumlah pejabat Fed sesudahnya menyuarakan hal serupa, sehingga peluang kenaikan pada 28 Oktober naik ke sekitar dua pertiga. Bank of Japan menyusul menaikkan bunga ke 1,25 persen pada 18 September, dan bank sentral Australia diperkirakan menaikkan bunga pada Selasa ini. Ini pengetatan serentak yang digerakkan inflasi energi dari perang Iran.

Pasar obligasi AS merespons dengan aksi jual besar. Imbal hasil tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,23 persen pada 25 September, tertinggi sejak 2007, dan tenor 30 tahun di sekitar 5,50 persen, tertinggi sejak 2004. Pendorongnya adalah Fed yang tegas, data aktivitas AS yang kuat dengan PMI komposit tertinggi dalam 62 bulan, harga minyak, dan pasokan obligasi yang besar dari defisit pemerintah serta kebutuhan pendanaan belanja AI. Indeks dolar menguat ke sekitar 101. Namun saham AS tidak ikut runtuh, karena reli saham AI membawa Nasdaq ke rekor penutupan 27.244 pada 22 September, dan S&P 500 hanya sekitar 0,7 persen di bawah rekornya. Kombinasi yield tinggi, dolar kuat, dan modal yang mengalir ke teknologi AS inilah yang membuat pasar berkembang tertinggal.

Minyak tetap mahal. Brent kontrak November bertahan di sekitar 104 dolar, sementara WTI di sekitar 92 dolar tertekan wacana larangan ekspor diesel AS. Perlu dicatat, sebagian kuotasi Brent kini menampilkan kontrak Desember di sekitar 97 dolar karena kontrak November jatuh tempo 30 September, jadi selisih itu bukan penurunan harga. Pembicaraan damai Iran di New York sempat menekan minyak, tapi pada Sabtu 26 September Trump menolak usulan Iran, sehingga premi risiko minyak berpotensi naik lagi saat pasar dibuka Senin. Bagi Indonesia sebagai importir minyak, ini beban ganda untuk rupiah dan inflasi. Di logam, emas turun ke sekitar 4.321 dolar dan sempat menyentuh titik terendah tujuh pekan, sekitar 23 persen di bawah puncaknya karena imbal hasil riil yang tinggi, jadi tetap bukan cerita rekor. Tembaga bertahan di sekitar 6,77 dolar per pon, hanya 1 sampai 2 persen di bawah puncaknya. Nikel justru jatuh ke harga tunai terendah tahun ini, sementara batu bara bertahan tinggi di sekitar 144 dolar per ton.

Dari kawasan ada kabar yang lebih cerah. Pertemuan Trump dan Xi Jinping pekan lalu menghasilkan pemangkasan tarif timbal balik dan perpanjangan gencatan tarif, dengan rinciannya dijadwalkan terbit Senin. Indeks manajer pembelian China terbit Rabu, dengan sinyal awal membaik setelah Agustus di 49,8. Mulai Kamis, bursa China daratan libur Golden Week sampai 7 Oktober, sementara Hong Kong hanya libur Kamis, jadi likuiditas kawasan menipis di paruh akhir pekan.


Domestik: BI Menahan, Rupiah Dekat Rekor Terlemah, APBN 2027 Disahkan

Sumber: Bank Indonesia, BPS, Kementerian Keuangan, DPR, BEI, CNN Indonesia, CNBC Indonesia, Kontan, Katadata (14-27 September 2026)

Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG 22-23 September, penahanan ketiga beruntun dan RDG perdana Destry Damayanti sebagai Gubernur definitif. BI menegaskan fokusnya pada stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, dan menambah amunisi di luar suku bunga: intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri, serta perluasan insentif lindung nilai yang kini juga mencakup pinjaman luar negeri bank dan investasi langsung, dengan potongan premi swap dan DNDF yang diperbesar. IHSG sempat memantul 1,56 persen pada hari pengumuman, tapi pantulan itu tidak bertahan. Rupiah tetap melemah ke 17.917 per dolar menurut kurs acuan JISDOR pada 25 September, sekitar 1,7 persen dalam dua pekan dan hanya sekitar 0,7 persen dari rekor terlemahnya di 18.039 pada 4 Juni. BI menjelaskan pelemahan itu dipicu lonjakan yield obligasi AS, ketegangan Timur Tengah, permintaan valas importir menjelang tutup kuartal, dan aksi lepas portofolio asing.

Data domestik pekan ini terpusat di Kamis. Inflasi September diproyeksi naik ke kisaran 3,2 sampai 3,4 persen, didorong kenaikan harga BBM nonsubsidi dan pangan, mendekati batas atas target 3,5 persen. Indeks manufaktur Agustus berada di zona kontraksi 49,8, dan neraca perdagangan Juli hanya surplus tipis 0,12 miliar dolar karena impor tumbuh 27 persen jauh melampaui ekspor. Inflasi yang merangkak naik, manufaktur yang belum pulih, dan surplus dagang yang menipis membuat fondasi rupiah rapuh, apalagi dengan minyak di atas 100 dolar.

Dari sisi fiskal ada dua perkembangan. Kursi Menteri Keuangan berganti pada 14 September, dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara, yang menegaskan kebijakan fiskal tetap hati-hati tapi aktif menjaga momentum pertumbuhan. APBN 2027 sudah disepakati Badan Anggaran dan dijadwalkan disahkan di Rapat Paripurna DPR Selasa 29 September, dengan defisit 2,40 persen PDB, asumsi kurs Rp17.500, dan harga minyak Indonesia 75 dolar per barel. Asumsi itu kini jauh dari kenyataan, dengan rupiah di atas 17.900 dan Brent di atas 100 dolar, sehingga beban subsidi energi menjadi hal yang layak dipantau.

Dari sisi arus, asing menjual bersih Rp3,15 triliun pekan lalu setelah Rp2,94 triliun pada pekan FOMC. Bank besar menjadi sasaran utama, dipimpin BMRI dan BBRI, disusul TLKM, sementara pembelian asing kecil dan selektif, terutama di saham emas, logam, dan sawit. Di saat saham besar dilepas, spekulasi di saham kecil justru ramai, terlihat dari sejumlah suspensi BEI atas lonjakan harga tak wajar sepanjang pekan lalu. Di sisi struktural, paket pembenahan bursa pekan ini menjadi sinyal positif jangka menengah menjelang review MSCI November, walau dalam jangka pendek menambah volatilitas.

🔒

Lanjutannya khusus member Premium

Analisis penuh dengan level entry dan exit hanya untuk member Premium ke atas.