AlfeySaham
Market Outlook26 Juli 2026

IHSG Pekan 27-31 Juli 2026: FOMC Rabu Jadi Pivot di Antara Tarif Baru dan Minyak yang Reda

📅 Terbit: Minggu, 26 Juli 2026  ·  ⏱️ 17 menit baca  ·  🏷️ Market Outlook Mingguan

⚠️ FOMC Warsh: keputusan Kamis 30 Juli dini hari WIB

Damai AS-Iran yang menopang rebound Juni kolaps kembali sepanjang Juli, mendorong Brent tembus $100. IHSG anjlok 1,88% Jumat 24 Juli dalam gelombang risk-off global tiga lapis: minyak yang masih tinggi saat bursa buka, tarif baru AS yang aktif hari itu, dan kejatuhan saham teknologi Wall Street. Baru setelah BEI tutup, di sesi AS Jumat malam, Brent berbalik turun 4% ke $96,78 begitu China turun tangan mendorong perundingan. Pekan ini FOMC 28-29 Juli jadi penentu.

Seluruh analisis bersifat edukatif, berbasis data publik terverifikasi per 26 Juli 2026. Sumber: BEI, Bisnis.com, Kontan, Liputan6, CNBC Indonesia, Kompas, Media Indonesia, Tempo, iNews, Infobank, SINDOnews, VIVA, ANTARA, Republika, CNN, Trading Economics, Goldman Sachs, CME FedWatch, Bareksa. Ini bukan rekomendasi beli atau jual. DYOR.


Damai yang sempat menenangkan pasar di Juni, kini berbalik jadi ancaman terbesar Juli.

Sebulan lalu, kesepakatan damai AS-Iran menekan Brent ke $71 pada 1 Juli dan menggerakkan optimisme bahwa fase terburuk sudah lewat. Optimisme itu tidak bertahan. Sepanjang Juli, gencatan senjata retak berulang kali, serangan saling balas terjadi lagi, dan puncaknya pekan lalu: milisi Houthi Yaman menyerang tanker minyak Saudi di Laut Merah, sementara Hormuz kembali nyaris lumpuh. Brent melonjak sekitar 7% dalam sehari dan ditutup di atas $100 pada Kamis 23 Juli, tertinggi sejak Mei. Minyak inilah yang masih membebani pasar saat BEI buka Jumat, dan penurunannya baru datang belakangan.

Di tengah badai itu, IHSG sepanjang 20-24 Juli tetap naik tipis 0,34% ke 6.196 berkat penguatan awal pekan, meski Jumat ditutup anjlok 1,88%. Koreksi Jumat ini penting dipahami sebagai risk-off global yang berlapis. Saat BEI buka Jumat, minyak masih di kisaran $98-100 dan menekan, tarif impor baru AS mulai berlaku hari itu, dan Wall Street baru saja rontok karena saham teknologi (Tesla dan Alphabet menghapus sekitar $500 miliar nilai pasar). Bukti pola regional memperkuatnya: KOSPI Korea yang berat teknologi jatuh sekitar 5,91%, jauh lebih dalam dari IHSG. Kapitalisasi pasar tetap naik ke Rp10.870 triliun dan volume harian melonjak 66,88%, tanda partisipasi domestik hidup, tapi asing net sell Rp1,36 triliun Jumat dan akumulasi jual bersih 2026 mencapai Rp79,09 triliun.

Kabar besar justru datang setelah BEI tutup. Di sesi AS Jumat malam WIB, Brent berbalik anjlok 4% ke $96,78 (WTI $89,31) begitu muncul laporan Reuters bahwa China menginisiasi dorongan diplomatik untuk memulai kembali perundingan AS-Iran, dengan Pakistan sebagai mediator. Motivasi Beijing bersifat ekonomi: sebagai pembeli utama minyak Iran, penutupan Hormuz merugikan kepentingannya. Karena terjadi saat bursa domestik sudah tutup, penurunan minyak dan kabar China ini belum sempat diserap IHSG, jadi posisinya adalah sentimen untuk pembukaan Senin 27 Juli. Sinyal de-eskalasi ini nyata, tapi masih awal dan rapuh, apalagi AS masih melancarkan serangan ke Iran malam ke-13 berturut-turut.

Satu beban baru berlanjut ke pekan ini, yaitu tarif. Setelah tarif sementara 10% global berakhir 23 Juli, AS memberlakukan tarif impor baru 10 sampai 12,5% terhadap sekitar 60 mitra dagang, termasuk Indonesia yang kena di ujung bawah 10%. Ini kebijakan sapu jagat yang MNC Sekuritas kaitkan dengan penegakan larangan produk berbasis kerja paksa, jadi menyasar banyak negara sekaligus. Berbeda dari minyak yang bisa naik-turun harian, tarif ini menempel pada ekspor dan menjadi tekanan struktural yang menemani pasar ke depan.

BI sudah mengambil sikap sebulan ini. Setelah menaikkan rate total 100 bps sejak Mei, RDG 21-22 Juli memutuskan mempertahankan BI-Rate di 5,75%, di bawah ekspektasi sebagian pasar yang menebak kenaikan ke 6,00%. Sebagai gantinya, BI menebar paket insentif untuk menarik arus modal asing tanpa menaikkan bunga lebih jauh. Rupiah bertahan di kisaran Rp17.900.

Pekan ini semua mata tertuju ke Washington. FOMC 28-29 Juli, dengan keputusan diumumkan dini hari Kamis 30 Juli WIB, adalah penentu terbesar. Dengan lonjakan minyak yang sempat tembus $100 pekan lalu dan inflasi AS masih 4,2%, pasar kini melihat peluang kenaikan bunga satu-dari-tiga, jauh lebih tinggi dari bulan lalu. Bagi IHSG yang bertahan di 6.196, arah pekan ini sebagian besar ditentukan oleh nada Warsh Rabu malam.


Data Final Pekan 20-24 Juli 2026

Sumber: BEI (Kautsar Primadi Nurahmad), Sabtu 25 Juli 2026

MetrikNilaiCatatan
Penutupan Jumat 24/76.196,43+0,34% sepekan
Perubahan harian Jumat-1,88%Tarif AS + Timteng menekan
Kapitalisasi pasarRp10.870 T+1,13% sepekan
Volume transaksi harian43,68 M lembar+66,88%
Net sell asing Jumat 24/7Rp1,36 TTekanan asing lanjut
Net sell asing YTDRp79,09 TAkumulasi jual bersih 2026
Brent 24 Juli$96,78Settle sesi AS, dari $100 Kamis 23/7
RupiahRp17.900BI Rate ditahan 5,75%

Rekonstruksi Harian 20-24 Juli 2026

HariRingkasan
Sen-Sel 20-21Pasar wait-and-see jelang RDG BI (21-22 Juli). Rupiah melemah ke kisaran Rp17.940-18.000 karena geopolitik Timteng memanas. Volume mulai naik, partisipasi domestik kuat.
Rab 22/7RDG BI tahan rate 5,75% (di bawah ekspektasi 6,00%), tebar insentif arus modal. IHSG dibuka menguat ke 6.366 lalu ditutup merah di 6.324. Brent tembus $100. Sentimen domestik membaik, tapi minyak jadi beban.
Kam 23/7Rupiah menguat tipis ke Rp17.914 pasca insentif BI. Brent settle $100,69 (+7%) setelah Houthi serang tanker Saudi di Laut Merah. Pasar mencerna dua kekuatan berlawanan: sentimen domestik membaik lawan minyak yang membakar.
Jum 24/7IHSG anjlok 1,88% ke 6.196. Risk-off global tiga lapis saat BEI buka: minyak masih tinggi ($98-100), tarif baru AS aktif hari itu, dan tech wreck Wall Street overnight (Tesla, Alphabet). Seluruh Asia merah, KOSPI Korea bahkan -5,91%. Asing net sell Rp1,36 T. Catatan: Brent baru turun 4% ke $96,78 di sesi AS malam setelah BEI tutup, jadi belum terserap hari ini. Sepekan tetap +0,34% berkat penguatan awal pekan.

Event Utama Pekan Ini: FOMC 28-29 Juli, Keputusan Dini Hari Kamis WIB

Sumber: CME FedWatch, Polymarket, Forbes, Bank of America, Federal Reserve (18-24 Juli 2026)

IndikatorNilaiCatatan
Rate saat ini3,50-3,75%Sejak Juni (Warsh pertama)
Peluang hold~65%Skenario dasar
Peluang hike 25 bps~1-dari-3Naik dari bulan lalu
Dot plot9 anggotaPerkirakan minimal 1 hike 2026

FOMC berlangsung Selasa-Rabu 28-29 Juli, keputusan diumumkan Rabu 14.00 waktu Washington, atau Kamis 30 Juli sekitar 01.00 WIB, diikuti konferensi pers Warsh 30 menit kemudian. Skenario dasar tetap hold, tapi lonjakan minyak ke atas $100 yang kembali membakar inflasi telah menaikkan peluang kenaikan ke sekitar satu-dari-tiga, jauh di atas bulan lalu. Warsh sudah menghapus forward guidance dan di forum Sintra menegaskan "inflasi masih terlalu tinggi". Karena pasar sudah mem-price hold, yang paling menggerakkan justru nada pernyataan: seberapa kuat sinyal hike untuk September.

Mengapa peluang hike naik bulan ini

Brent yang sempat tembus $100 pekan lalu langsung mengangkat harga BBM AS di atas $4 per galon dan mengancam mendorong inflasi Juli-Agustus lebih tinggi. Gubernur Fed Lisa Cook menyoroti inflasi di 3,7%, jauh di atas target 2%. Vice Chair Jefferson dan Gubernur Waller memperingatkan kemungkinan meninjau ulang kebijakan jika inflasi tidak mereda. Bagi emerging market seperti Indonesia, hike berarti dollar lebih kuat dan tekanan rupiah lanjut.

Argumen untuk tetap hold

CPI dan PPI Juni sempat mendingin lebih dari perkiraan, memberi Fed ruang untuk wait-and-see. Bank of America memperkirakan Warsh menahan sampai September. Tanpa Summary of Economic Projections di rapat ini, Fed cenderung memilih jalan aman dan menunda kejutan. Jika hold dengan nada netral, ini bisa jadi relief untuk emerging market termasuk IHSG.


Geopolitik: Minyak Sentuh $100, Lalu China Turun Tangan

Sumber: CNN, QZ, TechTimes, Trading Economics, Goldman Sachs (22-24 Juli 2026)

TitikBrentCatatan
1 Juli$71,57Pasca deal Juni
23 Juli$100,69+41% dari 1 Juli
Kenaikan bulanan+35%Terbesar ke-3 dalam dekade
24 Juli$96,78Settle sesi AS, China turun tangan
FaktorPenjelasan
Deal kolapsMoU damai yang diteken Juni retak berulang kali sepanjang Juli. Serangan saling balas kembali terjadi. Trump menyatakan deal "over" dan mengancam blokade laut Hormuz serta merebut Pulau Kharg, terminal ekspor utama minyak Iran. Rubio menyebut Teheran tidak serius bernegosiasi.
HouthiMilisi Houthi Yaman menyerang tanker minyak Saudi di Laut Merah (22-23 Juli), memukul jalur pipa Petroline yang selama ini jadi bypass Hormuz. Sebuah kapal terbakar 70 mil laut dari Al Shuqaiq. Ini membuka front kedua di Bab el-Mandeb, memperparah gangguan pasokan energi global.
China masukFaktor baru penting: Reuters (24 Juli) melaporkan China menginisiasi dorongan diplomatik memulai kembali perundingan AS-Iran, dengan Pakistan sebagai mediator. Menlu Wang Yi mendesak Iran bernegosiasi. Motivasi Beijing ekonomi, sebagai pembeli utama minyak Iran yang dirugikan penutupan Hormuz. Kabar ini menekan Brent turun 4% ke $96,78 di sesi AS Jumat malam WIB, setelah BEI tutup, jadi baru diserap pasar domestik Senin. Analis menilai upaya ini masih awal dan rapuh.
Implikasi RIMinyak yang sempat $100 lawan target APBN $70 menekan fiskal, tapi penurunan ke $96,78 di sesi AS Jumat sedikit meredakan. Rupiah tertekan, risiko BBM nonsubsidi naik muncul. Sisi positif: emiten energi dan komoditas (batu bara, CPO) diuntungkan harga tinggi. Goldman memperingatkan jika Hormuz tetap tertutup, Brent bisa rata-rata $120 di Q3, tapi diplomasi China bisa mengubah arah ini.

Pola berulang yang kini sudah dikenal pasar

Sepanjang 2026, pasar sudah berulang kali melihat siklus ini: optimisme deal Iran menguat, minyak turun, IHSG rebound, lalu deal retak, minyak melonjak, tekanan kembali. Yang berbeda kali ini ada dua hal baru: keterlibatan Houthi di Laut Merah yang sulit dikendalikan lewat diplomasi AS-Iran saja, dan masuknya China sebagai inisiator perdamaian yang bisa mempercepat de-eskalasi jika berhasil. Selama Hormuz dan Bab el-Mandeb belum benar-benar aman, volatilitas minyak tetap jadi faktor swing terbesar untuk IHSG, mengalahkan hampir semua katalis domestik. Tapi diplomasi China menambah peluang skenario turunnya minyak lebih cepat dari perkiraan.


Tarif Baru AS: Beban Struktural yang Berlanjut ke Pekan Ini

Sumber: Reuters, CNBC Indonesia, Detik, Tribunnews, MNC Sekuritas (24 Juli 2026)

AspekNilaiCatatan
Tarif Indonesia10%Ujung bawah pita 10-12,5%
Jumlah negara~60Mitra dagang AS
Berlaku24 JuliSetelah tarif 10% global berakhir
BasisKerja paksaPenegakan larangan produk

Setelah tarif sementara 10% global berakhir 23 Juli, AS memberlakukan tarif impor baru 10 sampai 12,5% terhadap sekitar 60 mitra dagang mulai Jumat. Indonesia kena di ujung bawah, 10%. Penting dipahami, ini kebijakan sapu jagat yang MNC Sekuritas kaitkan dengan negara yang dianggap lemah menegakkan larangan produk berbasis kerja paksa, jadi menyasar banyak pihak sekaligus. Beberapa headline membingkai sebagai "tarif 10% ke RI", padahal konteks lengkapnya Indonesia hanyalah satu dari 60 negara.

Mengapa tarif lebih penting dari minyak untuk pekan ini

Perbedaan kuncinya soal durasi. Minyak bisa naik-turun harian, dan Jumat malam sudah mulai reda berkat diplomasi China. Tapi tarif menempel pada ekspor dan tidak hilang dalam semalam. Untuk outlook yang bersifat memandang ke depan, ini menjadikan tarif sebagai tekanan yang lebih persisten. Dampak langsung ke emiten berorientasi ekspor ke AS (tekstil, alas kaki, furnitur, produk manufaktur padat karya) perlu dicermati. Namun dampak makronya untuk Indonesia relatif moderat karena tarif 10% ada di ujung terendah, dan porsi ekspor RI ke AS tidak sebesar negara manufaktur Asia lain.


Kalender Event: FOMC Rabu, PCE Jumat, Musim Rilis Q2

Lima hari bursa penuh. Pekan ini tidak ada libur.

Senin, 27 Juli

Absorb minyak reda + tarifPre-FOMC

Hari pertama menyerap dua kabar sesi AS Jumat malam yang belum sempat direspons: Brent turun ke $96,78 dan dorongan damai China, plus reaksi awal terhadap tarif baru AS 10% yang mulai berlaku. Cek perkembangan Timteng akhir pekan (status Hormuz, Houthi, apakah perundingan benar dimulai). Pasar kemungkinan berhati-hati jelang FOMC Rabu malam. Emiten eksportir ke AS rawan tertekan tarif, sementara energi bergantung pada apakah minyak lanjut reda atau berbalik naik.

Selasa, 28 Juli

FOMC hari pertamaMusim lapkeu Q2

FOMC dimulai (sesi pertama, keputusan besok). Pasar wait-and-see, volume kemungkinan menurun. Musim rilis laporan keuangan Q2 emiten Indonesia mulai ramai: perbankan besar, komoditas, dan consumer. Kinerja Q2 yang solid bisa jadi penopang di tengah ketidakpastian makro. Pantau rilis big banks dan emiten energi.

Rabu-Kamis, 29-30 Juli

FOMC decisionHari penentu

Hari paling krusial pekan ini. Keputusan FOMC diumumkan Rabu 14.00 Washington, atau Kamis 30 Juli sekitar 01.00 WIB, disusul konferensi pers Warsh. Saat BEI buka Kamis pagi, hasil sudah diketahui. Skenario A (hold, nada netral): relief, IHSG bisa menguat. Skenario B (hold tapi sangat hawkish, sinyal hike September): tekanan. Skenario C (hike kejutan): koreksi tajam. Kamis jadi hari reaksi penuh.

Jumat, 31 Juli

US PCE JuniAkhir bulan

US PCE Price Index (ukuran inflasi favorit Fed) dirilis, konfirmasi arah inflasi setelah FOMC. Jika tinggi, memperkuat narasi higher-for-longer dan menekan emerging market. Penutupan bulan Juli, potensi window dressing pada big caps. Pantau posisi rupiah dan reaksi lanjutan terhadap FOMC. Akhir pekan krusial untuk kabar Timteng yang bisa mengubah pembukaan pekan depan.


Scoring Matrix 5 Layer

Metodologi AlfeySaham: -2 (sangat bearish) hingga +2 (sangat bullish)

Verdict Pekan 27-31 Juli 2026

BEARISH WASPADA  ·  -0,70

Tiga tekanan menumpuk: minyak sempat $100, tarif baru AS 10% aktif, dan peluang Fed hike naik ke 1-dari-3. Minyak baru reda ke $96,78 di sesi AS Jumat malam berkat diplomasi China, jadi sentimen penyeimbang untuk pembukaan Senin. Rupiah tertekan, tarif jadi beban struktural baru. Tapi IHSG tunjukkan ketahanan (volume domestik kuat), BI tahan rate dengan insentif, dan emiten energi diuntungkan minyak tinggi. FOMC Rabu adalah pivot penentu.

LayerAnalisaSkor
1. Global MacroMinyak sempat $100 lalu reda ke $96,78 di sesi AS Jumat malam berkat diplomasi China, sinyal positif untuk Senin walau rapuh. Tapi tarif baru AS 10% ke 60 negara termasuk RI jadi beban baru, dan tech wreck Wall Street menekan sentimen global. FOMC Rabu peluang hike 1-dari-3, Warsh hawkish.-1,0
2. DomestikBI tahan rate 5,75% dengan paket insentif arus modal, langkah cerdas tanpa menekan pertumbuhan. Rupiah bertahan Rp17.900. MSCI pertahankan status EM Juni (overhang besar terangkat) tapi ada deadline reformasi November. Risiko: BBM nonsubsidi bisa naik jika Brent bertahan tinggi.-0,3
3. TeknikalIHSG 6.196 bertahan di atas 6.000 meski Jumat anjlok 1,88%. Support kritis 6.000-6.100, resistance 6.300-6.400. Volume harian melonjak 66,88% = partisipasi kuat. Selama 6.000 bertahan, tren jangka pendek masih netral-positif. Jika tembus ke bawah, uji 5.900.0,0
4. Smart MoneyAsing net sell Rp1,36 T Jumat, YTD tembus Rp79,09 T (sangat tebal). Tapi partisipasi domestik sangat kuat (volume +66,88%), mengangkat pasar meski asing keluar. Rotasi ke energi dan komoditas bergantung arah minyak (masih $96,78, relatif tinggi). Big banks rawan tertekan suku bunga, eksportir kena tarif baru.-0,3
5. Event RiskFOMC Rabu = event biner terbesar pekan ini. Tarif baru AS aktif jadi beban struktural, PCE Jumat konfirmasi inflasi. Musim lapkeu Q2 bisa jadi penopang atau pemberat per emiten. Ketegangan Timteng bisa memburuk kapan saja, meski diplomasi China beri harapan de-eskalasi. Konsentrasi event membuat pasar sulit agresif sampai FOMC lewat.-0,7

Radar Smart Money: Energi, Perbankan, dan Eksportir yang Kena Tarif

Minyak, suku bunga, dan tarif menciptakan pemenang dan pecundang yang jelas di bursa.

KelompokCatatan
Diuntungkan: energi dan komoditasMinyak yang sempat $100 dan kini di $96,78 masih relatif tinggi, mengangkat emiten migas (MEDC, ESSA, ELSA) dan batu bara (ADRO, ITMG, PTBA, HRUM). Sektor energi jadi satu-satunya yang sempat hijau di tengah koreksi pekan lalu. Kuncinya pekan ini: apakah minyak lanjut reda (diplomasi China) atau berbalik naik. Rupiah lemah menambah margin dalam rupiah untuk emiten berpendapatan dolar.
Tertekan: big banks dan sensitif suku bungaBBCA, BBRI, BMRI, BBNI kompak tertekan Jumat, menjadi beban utama koreksi IHSG. Suku bunga tinggi (BI 5,75%, Fed berpotensi hike) menekan valuasi. Sensitif juga: properti dan sektor yang bergantung kredit. Tunggu kejelasan FOMC sebelum masuk. Jika FOMC dovish, big banks yang paling oversold bisa bounce cepat.
Penyangga: partisipasi domestikVolume transaksi melonjak 66,88% sepekan, menunjukkan investor ritel dan domestik sangat aktif. Ini yang menahan IHSG tetap positif meski asing net sell dan minyak melonjak. Selama partisipasi domestik kuat, koreksi cenderung tertahan. Tapi domestik saja sulit mengangkat pasar tanpa dukungan arus asing yang masih keluar.
Tertekan baru: eksportir kena tarifTarif AS 10% memukul emiten berorientasi ekspor ke AS: tekstil, alas kaki, furnitur, manufaktur padat karya. Dampak makro moderat (tarif di ujung terendah), tapi per emiten bisa signifikan. Di sisi lain, musim lapkeu Q2 mulai ramai, emiten dengan kinerja solid dan tahan suku bunga tinggi (consumer staples, telko) bisa jadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian.

Radar berbasis data dan analisis sentimen. Bukan rekomendasi beli atau jual.


Tiga Skenario IHSG Pekan 27-31 Juli

Bergantung pada nada FOMC Rabu dan arah minyak.

Skenario Bull (25%): "FOMC Hold Netral + Minyak Turun"

FOMC hold dengan nada netral, tidak menyinyalkan hike September secara keras. Diplomasi China berhasil, perundingan AS-Iran dimulai, Brent turun ke bawah $90. Rupiah menguat. Lapkeu Q2 solid. IHSG rebound dari koreksi Jumat.

Target IHSG 6.250 - 6.450

Skenario Base (45%): "FOMC Hold Hawkish + Minyak Tetap Tinggi"

FOMC hold tapi nada hawkish, membuka pintu hike September. Brent stabil $95-100, tarif baru mulai terasa di eksportir. IHSG konsolidasi dengan bias melemah, ditopang partisipasi domestik dan sektor energi. Big banks dan eksportir tertekan.

Target IHSG 6.000 - 6.250

Skenario Bear (30%): "Fed Hike Kejutan + Eskalasi Timteng"

Fed hike 25 bps mengejutkan, atau nada sangat hawkish. Diplomasi China gagal, Timteng memburuk, Brent ke $110+. Tarif meluas atau dibalas. Dollar spike, rupiah ke Rp18.100+. IHSG breakdown 6.000, uji 5.800-5.900.

Target IHSG 5.800 - 6.050


Checklist Pemantauan Pekan Ini

  • Senin pagi: IHSG baru menyerap dua kabar sesi AS Jumat malam, Brent turun ke $96,78 dan dorongan damai China. Cek apakah keduanya berlanjut (Brent di bawah $92 = de-eskalasi menguat) atau berbalik (di atas $100 = tekanan lagi). Sekaligus pantau reaksi awal terhadap tarif baru AS 10% yang mulai berlaku, terutama di emiten eksportir.
  • Kamis dini hari WIB (~01.00): FOMC, hari penentu. Baca nada Warsh: apakah hold dengan sinyal hike September keras, atau netral. Saat BEI buka Kamis pagi, hasil sudah diketahui. Jangan posisi besar Rabu sebelum keputusan keluar dan tercerna.
  • Rotasi sektoral. Jika minyak tetap tinggi, energi dan komoditas (MEDC, ADRO, ITMG, PTBA) punya momentum. Big banks tunggu kejelasan FOMC. Perhatikan apakah partisipasi domestik yang kuat pekan lalu berlanjut menopang pasar.
  • Emiten eksportir ke AS: tarif baru 10% menekan margin emiten tekstil, alas kaki, furnitur, dan manufaktur padat karya. Dampak makro moderat karena tarif di ujung terendah, tapi per emiten bisa signifikan. Hati-hati di eksportir yang eksposur AS-nya tinggi sampai dampaknya jelas.
  • Musim lapkeu Q2: perhatikan rilis kinerja emiten, terutama big banks, energi, dan consumer. Kinerja solid bisa jadi penopang di tengah makro yang penuh ketidakpastian. Emiten yang mengecewakan berisiko koreksi tajam.
  • Jumat, US PCE (ukuran inflasi favorit Fed) dan penutupan bulan Juli. Jika PCE tinggi, memperkuat narasi higher-for-longer. Pantau window dressing akhir bulan pada big caps dan posisi rupiah jelang akhir pekan.

Disclaimer: Seluruh analisis bersifat informatif dan edukatif, berdasarkan data publik yang terverifikasi per 26 Juli 2026. Sumber: BEI (Kautsar Primadi Nurahmad), Bisnis.com, Kontan, Liputan6, CNBC Indonesia, Kompas, Media Indonesia, Tempo, iNews, Infobank, SINDOnews, VIVA, ANTARA, Republika, CNN, QZ, TechTimes, Trading Economics, Goldman Sachs, CME FedWatch, Bareksa, Detik, Tribunnews. Ini bukan rekomendasi beli atau jual. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu. DYOR.