📅 Terbit: Senin, 12 Oktober 2026 · ⏱️ 20 menit baca · 🏷️ Market Outlook Mingguan
IHSG akhirnya mencatat kenaikan mingguan pertama setelah empat pekan beruntun turun, naik 0,94 persen ke 6.094. Jalannya bergelombang. Indeks menguat dua hari sampai 6.216, berbalik turun dua hari setelah risalah The Fed bernada ketat dan minyak melonjak karena kabar rencana serangan AS ke Iran, lalu memantul lagi Jumat dari bawah 6.000. Pekan ini ujian utamanya ada di inflasi AS September yang terbit Rabu malam, data yang akan menentukan seberapa besar peluang The Fed menaikkan bunga lagi sebelum akhir tahun. Pasar juga mencermati pembukaan musim laporan keuangan kuartal III dan arah minyak setelah Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November.
Seluruh analisis merupakan riset pribadi team Alfey Saham, berbasis data publik terverifikasi per 11 Oktober 2026. Harga pasar, rata-rata bergerak, indikator, dan statistik historis dihitung sendiri dari data harian dengan metode standar, lalu dicocokkan dengan sumber lain. Data minyak memakai kontrak yang sama agar tidak terdistorsi pergantian kontrak. Sumber: BEI, KSEI, BPS, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, Federal Reserve, Departemen Keuangan AS, University of Michigan, NY Fed, ECB, RBI, OPEC, IMF, Trading Economics, Yahoo Finance, Investing.com, CNBC Indonesia, ANTARA, Kontan, Katadata, Kompas, Infobank, IDN Times, Liputan6, BRI Danareksa Sekuritas, RHB Sekuritas, MNC Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas. Ini bukan rekomendasi beli atau jual. DYOR.
IHSG memantul dari 6.000 dan membentuk kandidat double bottom, tapi masih terkurung di rentang pekan lalu menjelang inflasi AS.
Pekan lalu bergerak di antara skenario bull dan base dari edisi sebelumnya. Pantulan Senin dan Selasa sempat mencapai 6.216, masuk sasaran skenario bull di 6.180 sampai 6.257, lalu tertahan tepat di rata-rata 20 pekan. Setelah turun dua hari, indeks ditutup di 6.094, di dalam rentang skenario base 5.930 sampai 6.187. Garis 6.000 bertahan di setiap penutupan, sehingga skenario bear tidak terjadi.
Kenaikan 0,94 persen ini yang pertama setelah empat pekan beruntun turun. Jual bersih asing menyusut separuh menjadi Rp2,44 triliun dari Rp5,03 triliun sepekan sebelumnya, dan Jumat asing mencatat beli bersih tipis Rp30,40 miliar. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 28,52 persen ke Rp16,23 triliun, terutama karena crossing jumbo saham BYAN di pasar negosiasi pada Rabu. Rupiah stabil, dengan kurs acuan JISDOR bergerak di 17.880 sampai 17.917 tanpa menyentuh 18.000. Meski begitu, akumulasi jual bersih asing sejak awal tahun sudah mencapai Rp84,99 triliun, dan IHSG masih turun sekitar 30 persen sepanjang 2026.
Dari dalam negeri, cadangan devisa akhir September hanya turun tipis ke 146,3 miliar dolar dari 146,5 miliar dolar, tanda biaya menjaga rupiah selama September masih terkendali. Gubernur BI Destry Damayanti mengakui rupiah masih rentan oleh potensi pelarian modal global dan sempat terjadi arus keluar dari SBN dan SRBI, lalu memperkenalkan strategi baru berupa insentif biaya lindung nilai dan potongan giro wajib minimum untuk bank yang aktif menyalurkan kredit. Data konsumsi cukup baik, dengan penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen dan diperkirakan 1,4 persen pada September, walau keyakinan konsumen sedikit turun ke 118,1.
Di latar global, risalah FOMC menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed menilai satu kenaikan bunga lagi kemungkinan tepat sebelum akhir tahun, setelah kenaikan ke 3,75 sampai 4,00 persen pada September. Gubernur Fed Christopher Waller menambahkan kenaikan itu tidak harus terjadi di rapat yang berurutan, sehingga pasar kini hanya memperhitungkan sekitar 18 persen peluang kenaikan pada 28 Oktober, tapi sekitar 83 persen sampai Desember. Yield obligasi AS 10 tahun sempat ditutup 5,31 persen pada Senin, tertinggi sejak Mei 2002, sebelum turun ke 5,24 persen setelah lelang 10 tahun yang diminati. Minyak Brent naik 2,4 persen sepekan ke sekitar 104,7 dolar, dengan lonjakan 4,1 persen pada Kamis setelah muncul laporan Pentagon meminta militer AS bersiap melanjutkan operasi tempur besar terhadap Iran. Kamis malam waktu Indonesia, Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November.
Pekan ini kalendernya terpusat di Amerika. Inflasi AS September terbit Rabu malam dan reaksinya mengenai IHSG Kamis, disusul penjualan ritel dan inflasi produsen Kamis malam, lalu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh Jumat pagi. Bank-bank besar AS membuka musim laporan keuangan kuartal III mulai Selasa. Kalender domestik sepi karena neraca dagang September baru terbit awal November, sementara RDG Bank Indonesia digelar 20-21 Oktober. Secara teknikal, IHSG berada di antara support 6.000 dan neckline 6.216, dan sisi yang lebih dulu ditembus akan menentukan arah berikutnya.
Data Final Pekan 5-9 Oktober 2026
Sumber: BEI (rekap pekanan 9 Oktober 2026), Bank Indonesia (JISDOR), Yahoo Finance, rilis 9-10 Oktober 2026
| Metrik | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Penutupan Jumat 9/10 | 6.093,76 | +0,94% sepekan (+56,87 poin), naik pertama setelah empat pekan turun |
| Rentang sepekan | 5.996 - 6.216 | Di dalam rentang pekan lalu (5.973 - 6.228) |
| Kapitalisasi pasar | Rp10.701 T | +0,69% sepekan |
| Rata-rata nilai transaksi harian | Rp16,23 T | +28,52%, terdongkrak crossing jumbo Rabu |
| Rata-rata volume harian | 46,53 M lembar | -7,62%, frekuensi 1,67 juta kali (-0,27%) |
| Jual bersih asing sepekan | Rp2,44 T | Turun 51% dari Rp5,03 T, Jumat beli bersih Rp30,40 M |
| Jual bersih asing YTD | Rp84,99 T | Dari Rp82,55 T sepekan sebelumnya |
| Rupiah (JISDOR 9/10) | Rp17.884 | Dari 17.898, tidak menyentuh 18.000 sepanjang pekan |
Rekonstruksi Harian 5-9 Oktober 2026
| Hari | Penutupan | Ringkasan |
|---|---|---|
| Sen 5 | 6.118,86 (+1,36%) | Pantulan kuat dari 6.000. Mayoritas saham dan sektor naik, indeks ditutup nyaris di titik tertingginya. |
| Sel 6 | 6.192,93 (+1,21%) | Kenaikan berlanjut dan sempat menyentuh 6.216, tepat di rata-rata 20 pekan. Seluruh sektor naik, dipimpin transportasi dan teknologi. |
| Rab 7 | 6.146,72 (-0,75%) | Kenaikan tiga hari terputus. Nilai transaksi membengkak ke Rp36,20 T karena crossing jumbo BYAN di pasar negosiasi, dan BYAN yang turun 6,69% menjadi salah satu penekan terbesar. |
| Kam 8 | 6.031,28 (-1,88%) | Hari terberat. Penurunan harian terbesar sejak 24 Juli, ditutup di titik terendah. Pemicu: risalah FOMC yang bernada ketat dan minyak naik lebih dari 4% setelah laporan rencana serangan AS ke Iran. |
| Jum 9 | 6.093,76 (+1,04%) | Sempat turun ke 5.996 lalu memantul, setelah Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela. Data penjualan eceran ikut menopang. Asing beli bersih tipis Rp30,40 M. |
Catatan: pernyataan Trump soal Iran keluar Kamis sekitar pukul 23.50 WIB, setelah bursa tutup, sehingga baru tercermin pada sesi Jumat. Data inflasi AS Rabu malam baru tercermin pada sesi Kamis.
Layer Teknikal IHSG
Basis data harian penutupan per 9 Oktober 2026. Rata-rata bergerak, RSI (metode standar Wilder), Stochastic, MACD, ATR, dan Bollinger Band dihitung sendiri dari deret harian.
Struktur harga: pantulan pertama, tapi masih di dalam rentang pekan lalu. IHSG mencatat kenaikan mingguan pertama setelah empat pekan beruntun turun. Bar mingguannya berbentuk inside bar, karena high pekan ini di 6.216 masih di bawah high pekan lalu di 6.228 dan low-nya di 5.996 masih di atas low pekan lalu di 5.973. Pola ini menandakan pasar sedang menimbang arah, dan breakout dari salah satu sisi rentang 5.973 sampai 6.228 akan menentukan langkah berikutnya. Di grafik harian, Senin ditutup nyaris di titik tertingginya dengan candle bullish closing marubozu, Selasa sempat menyentuh 6.216 tepat di rata-rata 20 pekan, lalu Rabu dan Kamis berbalik turun. Kamis ditutup di titik terendahnya dengan candle bearish closing marubozu. Jumat indeks sempat turun ke 5.996, untuk ketiga kalinya dalam tujuh sesi menembus 6.000 secara intraday, lalu ditutup di 6.094 dengan pola bullish harami terhadap candle Kamis.
Pola yang sedang terbentuk: potensi double bottom. Dua titik terendah di 5.973 (1 Oktober) dan 5.996 (9 Oktober) yang dipisahkan puncak 6.216 (6 Oktober) membentuk kerangka double bottom. Pola ini baru terkonfirmasi bila indeks ditutup di atas neckline 6.216, dengan proyeksi teknikal ke sekitar 6.460. Selama belum tembus, pola ini masih sebatas kandidat, dan penutupan di bawah 5.973 akan membatalkannya. Jarak harga ke neckline sekitar 2 persen, sementara jarak ke 6.000 sekitar 1,5 persen.
Indikator: momentum turun melemah, tren belum berbalik. RSI 14 dengan metode standar Wilder naik ke 40 dari 30 sepekan lalu, keluar dari ambang jenuh jual tapi masih di bawah 50. Stochastic %K di 27 kembali di atas garis %D-nya di 24, sinyal awal yang positif dari area rendah. Histogram MACD menyempit dari -51 menjadi -14, artinya tekanan turun mereda, walau MACD (-98) belum memotong garis sinyalnya (-84). Rata-rata 20 hari (6.244) terus menurun dan masih di bawah rata-rata 50 hari (6.373). Rata-rata ayunan harian (ATR) sekitar 105 poin atau 1,7 persen, dan batas bawah Bollinger Band ada di 5.914.
| Level | Angka | Peran |
|---|---|---|
| Resistance 3 | 6.323 - 6.373 | Pivot R2, retracement 50% penurunan Sep-Okt, MA60, MA50 |
| Resistance 2 | 6.244 - 6.256 | MA20 harian, retracement 38,2% penurunan Sep-Okt |
| Resistance 1 | 6.203 - 6.216 | MA20 mingguan, pivot R1, neckline double bottom |
| Harga kini | 6.094 | Penutupan Jumat 9 Oktober |
| Support 1 | 6.000 - 6.031 | Angka psikologis, Fibonacci 50%, penutupan Kamis |
| Support 2 | 5.973 - 5.996 | Dua dasar double bottom, pivot S1 |
| Support 3 | 5.851 - 5.914 | Fibonacci 61,8%, pivot S2, batas bawah Bollinger |
Penutupan di atas 6.216 mengonfirmasi double bottom dan membuka jalan ke 6.244 sampai 6.256, lalu 6.323 sampai 6.373. Selama di bawahnya, indeks cenderung bergerak di rentang 6.000 sampai 6.216. Penutupan di bawah 5.973 membatalkan pola dan membuka uji 5.851 sampai 5.914.
Sejumlah analis memetakan level yang serupa. BRI Danareksa Sekuritas melihat rentang 6.000 sampai 6.215 untuk pekan ini, dengan resistance di 6.155 dan 6.215. Menurutnya tembusnya 6.215 membuka jalan ke MA20 di 6.244, sementara jebolnya 6.000 membuka support berikutnya di 5.854. Untuk awal pekan, RHB Sekuritas memperkirakan rentang 6.022 sampai 6.184 dengan kecenderungan konsolidasi, dan MNC Sekuritas mencatat kenaikan pekan lalu belum mampu menembus MA20. Untuk sebulan penuh, Mirae Asset memperkirakan Oktober bergerak menyamping dengan volatilitas tinggi, dengan peluang penguatan yang lebih meyakinkan bila IHSG merebut kembali area 6.347 sampai 6.451.
Sejarah: kenaikan pertama setelah rentetan turun belum tentu dasar
Sejak 1997, IHSG 35 kali mencatat kenaikan mingguan setelah turun minimal empat pekan beruntun. Hanya 16 kali di antaranya pekan berikutnya ikut naik, dan empat pekan kemudian indeks lebih tinggi juga hanya 16 kali, dengan median minus 1,2 persen. Tahun ini saja, pantulan April yang mencapai 6,1 persen dan pantulan Juni yang mencapai 7,4 persen sama-sama berakhir lebih rendah empat pekan kemudian. Kenaikan pekan lalu yang hanya 0,94 persen tergolong kecil dibanding pantulan-pantulan itu. Karena itu, konfirmasi lewat penutupan di atas neckline 6.216 lebih layak dijadikan pegangan daripada satu pekan hijau saja.
BI Ganti Strategi: Lindung Nilai Lebih Murah dan Potongan GWM
Sumber: Bank Indonesia, CNBC Indonesia (wawancara Gubernur BI, 8-9 Oktober 2026)
Rupiah masih rentan, BI memilih jalur di luar suku bunga
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui rupiah masih rentan oleh potensi pelarian modal global, ketika investor asing memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Menurutnya, hal itu sempat memicu arus keluar dari SBN dan SRBI, apalagi yield obligasi AS 10 tahun naik sampai 5,3 persen sementara SBN 10 tahun di sekitar 7,2 persen, sehingga selisih imbal hasilnya makin sempit. BI juga menilai yield SRBI yang sempat mencapai 7,6 persen ikut mengerek biaya dana perbankan. Karena itu BI mengganti pendekatannya, yaitu menarik dana asing tanpa harus menaikkan yield SRBI maupun BI-Rate.
Ada dua alat baru. Pertama, insentif biaya lindung nilai berupa potongan premi 30 persen untuk transaksi DNDF dan 25 persen untuk transaksi swap valas, supaya investor asing lebih murah melindungi risiko kurs saat masuk ke aset rupiah. Kedua, potongan giro wajib minimum hingga 2 persen dari dana pihak ketiga untuk bank yang penempatan di surat berharga, termasuk SBN dan SRBI, di bawah 19 persen dari DPK dan yang penyaluran kreditnya memadai. Bank yang menumpuk surat berharga di atas batas itu tidak mendapat insentif.
Bagi pasar saham, langkah ini punya dua arti. BI memberi sinyal lebih memilih menjaga rupiah lewat instrumen pasar dan likuiditas ketimbang menaikkan BI-Rate, sehingga tekanan ke valuasi saham perbankan dan properti dari sisi suku bunga lebih terbatas. Insentif GWM juga mendorong bank menyalurkan kredit ketimbang menumpuk surat berharga, walau dampaknya ke kinerja bank butuh waktu. Kepastian berikutnya ada di RDG 20-21 Oktober. Cadangan devisa akhir September yang hanya turun 0,2 miliar dolar ke 146,3 miliar dolar, setara 5,3 bulan impor, menunjukkan amunisi BI masih memadai.
Event Utama: Inflasi AS Rabu Malam, Musim Laporan Keuangan Dimulai
Sumber: BLS, Federal Reserve, IMF, KSEI, Trading Economics, investingLive (kalender per 11 Oktober 2026). Waktu AS 08.30 ET setara 19.30 WIB.
| Event | Jadwal | Konsensus / Catatan |
|---|---|---|
| Libur obligasi AS dan bursa Jepang, Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia mulai | Senin 12 Okt | Bursa saham AS tetap buka, pertemuan IMF di Bangkok 12-18 Okt |
| Laporan kuartal III bank besar AS | Selasa-Rabu 13-14 Okt | JPMorgan, Wells Fargo, Goldman Sachs, Citi Selasa, lalu Bank of America dan Morgan Stanley Rabu |
| Inflasi dan neraca dagang China September | Rabu 14 Okt pagi | Ukur permintaan global dan tekanan harga produsen |
| Inflasi AS September (CPI) | Rabu 14 Okt, 19.30 WIB | 3,6% yoy dari 3,4%, inti 2,5% dari 2,4% |
| Kinerja kuartal III TSMC | Kamis 15 Okt siang | Acuan sentimen saham cip dan AI global |
| Penjualan ritel dan inflasi produsen AS | Kamis 15 Okt, 19.30 WIB | Ritel +0,3% mom dari 1,2%, PPI +0,5% mom |
| Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh | Jumat 16 Okt, 10.30 WIB | Sehari sebelum masa tenang jelang FOMC 27-28 Okt |
Inflasi AS: penentu jadi tidaknya kenaikan Desember
Konsensus memperkirakan inflasi AS September naik ke 3,6 persen secara tahunan dari 3,4 persen, dengan kenaikan bulanan 0,6 persen. Selisihnya yang lebar dengan inflasi inti mencerminkan dorongan harga energi, karena inflasi inti diperkirakan hanya 2,5 persen dari 2,4 persen dengan kenaikan bulanan yang melambat ke 0,2 persen. Pasar saat ini hanya memperhitungkan sekitar 18 persen peluang kenaikan bunga pada 28 Oktober, tapi sekitar 83 persen sampai Desember. Angka inti yang lebih tinggi dari perkiraan bisa menghidupkan lagi peluang kenaikan Oktober dan mendorong yield serta dolar naik, sementara angka inti yang sesuai atau lebih rendah memperkuat perkiraan bahwa The Fed menunggu sampai Desember. Reaksi IHSG baru terlihat Kamis, lalu Kamis malam terbit penjualan ritel dan inflasi produsen, dan Jumat pagi Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara sehari sebelum masa tenang menjelang FOMC dimulai.
Domestik sepi data, fokus ke aksi korporasi dan RDG BI
Sejak pertengahan 2025, BPS merilis neraca perdagangan pada hari kerja pertama setiap bulan, sehingga data September baru terbit awal November dan tidak ada rilis data domestik besar pekan ini. Perhatian domestik beralih ke agenda korporasi, mulai dari hari terakhir cum dividen ASII pada Senin, RUPSLB GOTO pada Rabu yang membahas penarikan 32,18 miliar saham treasuri hasil buyback, sampai sejumlah rights issue yang berjalan. RDG Bank Indonesia digelar 20-21 Oktober dengan BI-Rate saat ini di 5,75 persen, dan hasil review MSCI November diumumkan 11 November.
Global: Fed Mengulur Kenaikan, Dolar dan Minyak Masih Menekan
Sumber: Federal Reserve, Departemen Keuangan AS, University of Michigan, NY Fed, ECB, RBI, OPEC, Trading Economics, Investing.com, Yahoo Finance (5-10 Oktober 2026)
| Faktor | Angka | Catatan |
|---|---|---|
| Risalah FOMC September | 1 kenaikan lagi | Mayoritas pejabat: kemungkinan tepat sebelum akhir tahun |
| Peluang Fed naik 28 Oktober | ~18% | Dari ~23%, peluang hingga Desember ~83% |
| US Treasury 10 tahun | 5,24% | Senin sempat ditutup 5,31%, tertinggi sejak 2002 |
| Indeks Dolar (DXY) | 102,21 | Naik empat pekan beruntun, tertinggi sejak April 2025 |
| Ekspektasi inflasi 1 tahun (UMich) | 4,7% | Naik dari 4,6%, sentimen konsumen 46,3 |
| Brent (kontrak Desember) | ~$104,7 | +2,4% sepekan, Kamis melonjak 4,1% |
| Emas | ~$4.216 | +1,3% sepekan, masih ~25% di bawah rekor |
| S&P 500 | 7.811,54 | +1,2% sepekan, rekor penutupan 7.818,93 pada Selasa |
| Batu bara Newcastle | ~$149/ton | Bertahan tinggi |
Data AS pekan lalu menggambarkan konsumen yang makin pesimistis di tengah tekanan harga yang belum reda. Indeks sentimen konsumen University of Michigan awal Oktober turun ke 46,3, di bawah perkiraan 47,6, sementara ekspektasi inflasi setahun ke depan naik ke 4,7 persen dan ekspektasi lima sampai sepuluh tahun naik ke 3,5 persen. Survei Fed New York juga mencatat ekspektasi inflasi setahun 3,9 persen, tertinggi sejak Mei 2023. Indeks jasa ISM turun tipis ke 54,9, tapi komponen harga yang dibayar naik ke 74,0, tertinggi sejak Juli 2022. Defisit perdagangan Agustus melebar ke 105,6 miliar dolar karena impor mencetak rekor, sementara klaim pengangguran mingguan tetap rendah di 197 ribu.
Risalah rapat FOMC 15-16 September mengonfirmasi The Fed menaikkan bunga ke 3,75 sampai 4,00 persen dengan suara bulat, dan sebagian besar peserta menilai satu kenaikan lagi kemungkinan tepat sebelum akhir tahun. Risiko inflasi dinilai condong ke atas, dan proyeksi staf The Fed baru melihat inflasi kembali ke 2 persen pada 2029. Gubernur Fed Christopher Waller kemudian menegaskan kenaikan itu tidak harus terjadi di rapat yang berurutan, asalkan terlaksana dalam jangka waktu yang wajar. Pasar membaca pernyataan ini sebagai ruang untuk menahan bunga pada 28 Oktober, sehingga peluang kenaikan Oktober turun ke sekitar 18 persen, sementara peluang minimal satu kenaikan sampai Desember tetap sekitar 83 persen. Inflasi AS September yang terbit pekan ini akan menguji perhitungan tersebut.
Di pasar obligasi, yield 10 tahun ditutup 5,31 persen pada Senin, tertinggi sejak Mei 2002, dan yield 30 tahun mencapai 5,67 persen pada Rabu, tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Tekanan mereda setelah lelang obligasi 10 tahun senilai 39 miliar dolar diminati kuat, dengan rasio permintaan 2,77 kali dan porsi penawar tidak langsung, yang mencakup investor asing, sekitar 80 persen. Sepekan, yield 10 tahun turun 4 basis poin ke 5,24 persen. Indeks dolar naik empat pekan beruntun ke 102,21, level penutupan tertinggi sejak April 2025. Wall Street tetap kuat: S&P 500 mencetak rekor penutupan 7.818,93 pada Selasa dan Nasdaq mencetak rekor pada Senin dan Selasa, sebelum saham teknologi terkoreksi pada Kamis dan pulih lagi Jumat.
Minyak kembali bergejolak. Brent kontrak Desember sempat turun ke sekitar 100 dolar di awal pekan, lalu melonjak 4,1 persen pada Kamis setelah laporan bahwa Pentagon meminta Komando Pusat AS menuntaskan persiapan untuk melanjutkan operasi tempur besar terhadap Iran, ditambah badai yang sempat menghentikan sebagian besar produksi minyak di Teluk Meksiko. Kamis malam waktu Indonesia, Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November dan menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan produktif. Brent menutup pekan di sekitar 104,7 dolar, naik 2,4 persen. Risiko pasokan belum hilang, karena Iran masih menutup Selat Hormuz sampai tujuh syaratnya dipenuhi, dan kelompok Houthi menyerang bandara di Jazan, Najran, dan Riyadh di Arab Saudi sepanjang pekan. OPEC+ mempertahankan tingkat produksi November. Di logam, emas naik 1,3 persen ke sekitar 4.216 dolar, masih sekitar 25 persen di bawah rekornya, sementara tembaga naik sekitar 2 persen, ditopang mogok kerja di tambang Centinela, Chile.
Dari kawasan, bank sentral India menaikkan bunga 25 basis poin ke 5,50 persen, kenaikan pertamanya sejak Februari 2023, menambah daftar bank sentral yang mengetat setelah The Fed, ECB, dan bank sentral Australia. Bursa China daratan dibuka kembali setelah libur Golden Week dengan Shanghai turun 0,74 persen sepekan, sementara Hang Seng naik 1,0 persen dan Nikkei 1,1 persen. Indeks Taiwan mencetak rekor penutupan pada Selasa, sedangkan KOSPI justru turun sekitar 5 persen dalam tiga hari perdagangan, meski Samsung memproyeksikan laba operasional kuartal III yang mencetak rekor.
Domestik: Konsumsi Bertahan, Asing Mulai Mengerem Jual
Sumber: Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, OJK, BEI, Kontan, Katadata, Kompas, ANTARA, IDN Times (5-10 Oktober 2026)
Data pekan lalu menunjukkan konsumsi domestik masih bertahan. Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan dan 0,8 persen dibanding bulan sebelumnya, lalu diperkirakan tumbuh 1,4 persen pada September. Indeks keyakinan konsumen September berada di 118,1, sedikit turun dari 118,5. Di dalamnya, ekspektasi konsumen untuk enam bulan ke depan justru naik ke 128,7, sementara penilaian atas kondisi ekonomi saat ini turun ke 107,5. Cadangan devisa akhir September tercatat 146,3 miliar dolar, turun tipis dari 146,5 miliar dolar, karena penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa hampir mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi rupiah.
Dari sisi fiskal, defisit APBN sampai akhir September tercatat Rp319,0 triliun atau 1,24 persen PDB, dengan pendapatan negara mencapai 74,5 persen target dan belanja 69 persen pagu. Menteri Keuangan Suahasil Nazara, yang menjabat sejak pertengahan September, menyatakan Danantara tidak menyetor dividen ke APBN 2026 dan 2027. Perombakan kabinet 1 Oktober masih menjadi perhatian pasar, dan RHB Sekuritas menyebut ketidakpastian arah kebijakan sebagai salah satu faktor penahan IHSG. Sebagai catatan, Bahlil Lahadalia yang dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi tetap merangkap Menteri ESDM.
Dari sisi arus dana, jual bersih asing di pasar saham menyusut ke Rp2,44 triliun sepekan, separuh dari pekan sebelumnya, dengan total beli asing Rp17,57 triliun dan jual Rp20,01 triliun. Porsi asing dalam nilai transaksi turun ke sekitar 23 persen, sehingga pasar kini lebih banyak digerakkan investor lokal. Di pasar obligasi, aliran modal asing ke SBN dan SRBI masih positif sepanjang tahun, kontras dengan pasar saham yang mencatat arus keluar. Dari sisi pasokan saham baru, OJK mencatat 29 emiten mengantre penawaran umum dengan target dana Rp26,47 triliun, sementara BEI menghentikan sementara perdagangan empat saham sejak Kamis sebagai langkah pendinginan setelah kenaikan harga yang tajam.
Lanjutannya khusus member Premium
Analisis penuh dengan level entry dan exit hanya untuk member Premium ke atas.